Perhitungan Kubikasi Rancangan Geometrik Jalan Raya

Berikut cara memperhitungkan KUBIKASI rancangan geometrik jalan raya, dan disini hanya saya jelaskan sepintas saja, dan satu sample gambar saja :)

Gambar Bendung

Gambar bendung.

Pemasangan Bouwplank

Ilmu teknik sipil – Bouwplank (papan bangunan) berfungsi untuk mendapatkan titik-titik bangunan yang diperlukan sesuai dengan hasil pengukuran:

Format Surat Teguran Keterlambatan Proyek/Pekerjaan

Format Surat Teguran Keterlambatan Proyek/Pekerjaan

Beton Serat

Beton serat adalah beton yang cara pembuatannya ditambah serat[1]. Tujuan penambahan serat tersebut adalah untuk meningkatkan kekuatan tarik beton, sehingga beton tahan terhadap gaya tarik akibat, cuaca, iklim dan temperatur yang biasanya terjadi pada beton dengan permukaannya yang luas.

Tampilkan postingan dengan label Irigasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Irigasi. Tampilkan semua postingan

SPESIFIKASI TEKNIS (BAHAN - BAHAN UMUM) - SEMEN PORTLAND

SEMEN PORTLAND

1. Semen Portland

Semen  yang  dipakai  adalah  Semen  Portland  sesuai  dengan  Standard  Indonesia N.I.8,ASTM. Model C.150 atau Standar Inggris Model BS.12. (Biasanya sering juga dirujuk ke SNI 6385 : 2016)


2. Pengujian dan Pemeriksaan

Sampling,  pemeriksaan  dan  pengujian  semen-semen  bila  diperlukan  akan  dilakukan oleh direksi pekerjaan dan bahwa sampling, pengujian dan pemeriksaan harus sesuai dengan Standar Indonesia.

Direksi pekerjaan dapat memeriksa semen yang disimpan dalam gudang setiap waktu sebelum  semen  tersebut  digunakan.  Semen  yang  tidak  memenuhi  syarat  tidak  akan dipakai.


3. Gudang dan Penyimpanan

Bila penyedia  jasa mendatangkan  semen  dalam  jumlah  yang  besar  dimana  semen tersebut  tidak  habis  dipakai  dalam  beberapa  hari,  maka penyedia  jasa harus menyediakan tempat penyimpanan yang baik sehingga semen tersebut terlindung dari kelembaban dan pembekuan.

Untuk menghindari penyimpanan yang terlalu lama, penggunaan semen-semen diatur secara  berurutan  sesuai  dengan  urutan  waktu  pengiriman  (chronological  order)  ke tempat penyimpanan.


Note: Ini hanya contoh, spesifikasi teknis bisa saja berbeda, karena disusun oleh Panitia Pengadaan sesuai dengan referensi yang dipunya.

Irigasi : Menghitung Kebutuhan Pengambilan (DR) dan Debit Intake untuk Padi

Menghitung Kebutuhan Pengambilan (DR) dan Debit Intake untuk Padi


1. Kebutuhan Pengambilan (DR)

Kebutuhan pengambilan untuk padi dan palawija adalah jumlah debit air yang dibutuhkan oleh 1 (satu) hektar sawah, digunakan rumus :


dimana :
DR      =  kebutuhan pengambilan (I/det/Ha)
NFR    =  kebutuhan air di sawah (mm/hari)
ef         =  efesiensi irigasi, biasanya diambil sebesar 65 %
1/8,64   =  angka konversi satuan (mm/hari), menjadi (I/det/Ha)


2. Debit Intake untuk Padi


Debit intake untuk padi adalah debit yang disadap dan kemudian dialirkan kedalam saluran irigasi untuk memenuhi kebutuhan air irigasi saat menanam padi. Dapat dihitung dengan rumus :


dimana :
Q         =  debit intake (m3/det)
A         =  luas areal irigasi (ha)
1/1000 =  angka konversi satuan (liter) ke (m3)

Sumber : Rancangan Irigasi

Irigasi : Menghitung Probabilitas, Curah Hujan Efektif, dan Kebutuhan Air untuk Penggunaan Konsumtif Tanaman (ETc)

Menghitung Probabilitas, Curah Hujan Efektif, dan Kebutuhan Air untuk Penggunaan Konsumtif Tanaman (ETc)


1. Probabilitas

Probabilitas adalah cara atau sistem untuk menghitung peluang terpenuhi, yaitu dengan rumus :



dimana :
p          =  probabilitas (%)
m         =  nomor urut data setelah diurut dari besar ke kecil
n          =  jumlah tahun data

2. Curah Hujan Efektif

Curah hujan efektif ditentukan untuk setiap setengah bulanan, yaitu merupakan hujan 70 % dari hujan berpeluang terpenuhi 80 %. Dengan kata lain hujan ini berpeluang gagal 20 %, yang berarti memiliki peluang periode ulang kegagalan rata-rata 5 tahun sekali. Rumus yang digunakan yaitu :


dimana :
Re        =  hujan efektif (mm/hari)
R80% (setengah bulanan) = hujan setengah bulanan berpeluang terpenuhi 80 % (mm)
p          =  probabilitas (%)



3. Kebutuhan Air untuk Penggunaan Konsumtif Tanaman (ETc)

Untuk perhitungan penggunaan konsumtif (ETc) dihitung dengan rumus Penman Modifikasi Metode FAO, yaitu :


dimana :
ETc      =  kebutuhan air untuk penggunaan konsumtif tanaman (mm/hari)
kc         =  koefisien tanaman
ET0      =  evapotranspirasi potensial tanaman acuan (mm/hari)

Sumber : Rancangan Irigasi.

Irigasi : Menghitung Kebutuhan Air Sawah dan Palawija

Menghitung Kebutuhan Air Sawah dan Palawija


A. Perhitungan Kebutuhan Air Disawah

Untuk perhitungan kebutuhan air disawah terdiri atas dua macam perhitungan yaitu : kebutuhan air disawah untuk padi dan palawija.

1. Kebutuhan air disawah untuk padi

Kebutuhan air di sawah untuk padi ditetukan oleh faktor-faktor berikut ini:
  • kebutuhan air untuk penyiapan lahan
  • kebutuhan air untuk penggunaan konsumtif tananam
  • kebutuhan air untuk perkolasi dan rembesan
  • kebutuhan air untuk pergantian lapisan air
  • curah hujan efektif
Kebutuhan air bersih di sawah (NFR) untuk padi dihitung dengan rumus :


Sedangkan untuk mencari secara interpolasi linier digunakan rumus :


dimana :
NFR    =  kebutuhan air bersih (mm/hari)
IR        =  kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm/hari)
Re        =  hujan efektif (mm/hari)
ETc      =  kebutuhan air untuk penggunaan konsumtif tanaman (mm/hari)
WLR   =  kebutuhan air untuk pergantian lapisan air (mm/hari)
P          =  kebutuhan air untuk perkolasi dan rembesan (mm/hari)
M         = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang telah dijenuhkan tanahnya (mm/hari)
E0        =  evaporasi air terbuka yang diambil 1,1 ET0 (mm/hari)
ET0     =  evaporaspirasi potensial tanaman acuan (mm/hari)

2. Kebutuhan air disawah untuk palawija

Selain kebutuhan untuk pergantian lapisan, kebutuhan air disawah untuk palawija ditentukan oleh faktor-faktor yang sama seperti padi, yaitu :
  • kebutuhan air untuk penyiapan lahan
  • kebutuhan air untuk penggunaan konsumtif tananam
  • kebutuhan air untuk perkolasi dan rembesan
  • curah hujan efektif
Rumusnya sama seperti kebutuhan air disawah untuk padi, yaitu :


dimana :
NFR    =  kebutuhan air bersih (mm/hari)
IR        =  kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm/hari)
Re        =  hujan efektif (mm/hari)

Sumber : Rancangan Irigasi.

Irigasi : Menghitung Dimensi Saluran

Menghitung Dimensi Saruran dan Tinggi Jagaan


1. Dimensi Sarulan


Dimensi saluran dihitung berdasarkan rumus kontinuitas persamaan strikler digunakan untuk menghitung kecepatan aliran (standar perencanaan irigasi KP – 03, 1986). Kecepatan aliran dihitung dengan rumus :


Menurut standar perencanaan irigasi KP-03, (1986), kecepatan maksimum yang diizinkan untuk saluran tanah V = 0,6 m/det dan saluran pasangan batu V = 1,5 – 2,0 m/det.
Unsur geometris penampang saluran dihitung dengan menggunakan rumus seperti di bawah ini :


Dimana :
Q     =    Debit saluran (m3/det)
V     =    Kecepatan aliran (m/det)
A     =    Luas tampang basah saluran (m2)
R     =    Jari-jari hidrolis saluran (m)
P      =    Keliling basah (m)
b      =    Lebar dasar (m)
h      =    Tinggi air (m)
I       =    Kemiringan dasar saluran
K     =    Koefisien stikler
M     =    Kemiringan talud
W    =    Tinggi jagaan (m)

2. Tinggi Jagaan

Jagaan suatu saluran merupakan jarak dari puncak tanggul permukaan air pada tinggi rencana. Jarak harus cukup untuk mencegah gelombang atau kenaikan muka air yang melimpah ke tepi saluran.




Rancangan Irigasi : Menghitung Evapotranspirasi Potensial Tanaman Acuan (ETo)

Menghitung Evapotranspirasi Potensial Tanaman Acuan (ETo)


Evapotranspirasi potensial tanaman acuan (ETo) dihitung dengan menggunakan rumus Penman Modifikasi. Rumus ini menghasilkan ETo dari tanaman acuan berupa rerumputan pendek dengan albedo 0,25. Ada 2 metode yang dapat digunakan pada rumus ini, yaitu :
1.      Metoda Nedeco/Prosida
2.      Metoda FAO
Dari kedua metoda tersebut, rumus Penman Modifikasi Metoda FAO lebih umum dipakai, yaitu seperti dijelaskan pada rumus dibawah ini.


dimana :
ET0      =  evapotranspirasi tanaman acuan (mm/hari)
c          = faktor yang menunjukkan pengaruh perbedaan kecepatan angin pada siang dengan malam hari
W        =  faktor pembobot
Rn       =  energi radiasi bersih yang menghasilkan evaporasi (mm/hari)
f(u)      = fungsi kecepatan angin rata-rata yang diukur pada ketinggian 2 m dengan  satuan kecepatan angin dalam (km/hari)
(ea-ed) =  perbedaan tekanan uap jenuh dengan tekanan uap aktual (mbar)

1. Faktor c

Tidak ada data yang membedakan kecepatan angin pada siang hari dan malam hari, maka nilai c dianggap 1.



2. Perbedaan tekanan uap (ea-ed)

Berdasarkan nilai temperatur rata-rata (Tmean), maka di peroleh dengan rumus :





dimana :
Rh       =  kelembaban relatif (%)
T          =  temperatur (oC)
Tmean =  temperatur udara rata-rata (oC)
ea         =  tekanan uap jenuh (mbar)

ed        =  tekanan uap aktual (mbar)


3.        Fungsi kecepatan angin f(u)


Pengaruh angin terhadap ET0 yang dihitung dengan rumus Penman Modifikasi ditunjukkan dengan rumus :
Sedangkan untuk mencari secara interpolasi linear digunakan rumus :


dimana :
f (u) =  fungsi kecepatan angin

                 u = kecepatan angin harian rata-rata, yang diukur pada ketinggian 2 m  (km/hari)


4. Faktor pembobot (W) dan (1-W)

Untuk mengkoreksi nilai faktor pembobot, maka faktor pembobot W menjelaskan bobot pengaruh perubahan tekanan dan energi radiasi terhadap ET0, secara matematis dapat dihitung :


Sedangkan untuk mencari secara interpolasi linear digunakan rumus :



dimana :
W        =  faktor pembobot
Ξ”          =  gradien perubahan tekanan uap terhadap perubahan temperatur
ΰ«ͺ         =  konstanta psychrometric
z          =  ketinggian daerah yang diamati (m)
T          =  temperatur (oC)

5.      Radiasi bersih (Rn)

Radiasi bersih Rn adalah selisih semua radiasi yang datang dengan semua radiasi yang pergi meninggalkan permukaan bumi. Radiasi bersih dapat dihitung dengan rumus : 


untuk mencari secara interpolasi linear untuk f(t) digunakan rumus :


untuk mencari secara interpolasi linear untuk f(ed) digunakan rumus :


untuk mencari secara interpolasi linear untuk f(n/N) digunakan rumus:




dimana :
Rs        =  radiasi matahari yang sampai ke bumi (mm/hari)
Ra        =  radiasi yang sampai pada lapisan atas atmosfer (mm/hari)
Rns      =  radiasi bersih matahari gelombang pendek (mm/hari)
Rn1     =  radiasi bersih gelombang panjang (mm/hari)
Rn       =  radiasi bersih (mm/hari)
           n/N    =  perbandingan jam cerah aktual dengan jam cerah teoritis, yang besarnya sama dengan persentasepenyinaran matahari.
       Ξ± = albedo atau persentase radiasi yang dipantulkan, untuk tanaman acuan pada rumus Penman Modifikasi diambil  Ξ± = 0,25


Sumber : Rancangan Irigasi

JARINGAN IRIGASI

Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya. Berkaitan dengan sistem irigasi yang telah dibahas pada bab 1, maka jaringan irigasi yang akan dibahas pada bab ini termasuk sistem irigasi permukaan.


Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan jaringan tersier. Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran sekunder. Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang berada dalam petak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu jarigan irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.



KLASIFIKASI JARINGAN IRIGASI

Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran, serta kelengkapan fasilitas, jaringan irigasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu 
(1) jaringan irigasi sederhana, 
(2) jaringan irigasi semi teknis dan 
(3) jaringan irigasi teknis. 

Karakteristik masing-masing jenis jaringan diperlihatkan pada Tabel 2. 1.
Tabel 2.1 Klasifikasi Jaringan Irigasi
Klasifikasi Jaringan Irigasi
Teknis semi teknis sederhana
Bangunan Utama Bangunan permanen Bangunan permanen atau
semi permanen
Bangunan sernentara
Kernarnpuan dalam
mengukur dan mengatur debit
Baik Sedang tidak mampu mengatur/ mengukur
Jaringan saluran Saluran pernberi
dan
Pembuang terpisah
Saluran pemberi dan
Pembuang tidak
sepenuhnya terpisah
Saluran pernberi dan
pembuang menjadi
satu
Petak tersier Dikembangkan
sepenuhnya
Belum dikembangkan
dentitas bangunan tersier
jarang
belum ada jaringan
terpisah yang
dikembangkan
Efisiensi secara keseluruhan 50-60% 40-50% <40%
Ukuran Tak ada batasan < 2000 hektar < 500 hektar
Sumber : Standar Perencanaan Irigasi KP - 01

Jaringan irigasi sederhana biasanya diusahakan secara mandiri oleh suatu kelompok petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun kemampuan dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas. Ketersediaan air biasanya melimpah dan mempunyai kemiringan yang sedang sampai curam, sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai air dari latar belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini masih memiliki beberapa kelemahan antara lain, 

(1) terjadi pemborosan air karena banyak air yang terbuang, 
(2) air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah bawah yang lebihsubur, dan 
(3) bangunan penyadap bersifat sementara, sehingga tidak mampu bertahan lama. 


Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap yang permanen ataupun semi permanen. Bangunan sadap pada umumnya sudah dilengkapi dengan bangunan pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah terdapat beberapa bangunan permanen, namun sistem pembagiannya belum sepenuhnya mampu mengatur dan mengukur. Karena belum mampu mengatur dan mengukur dengan baik, sistem pengorganisasian biasanya lebih rumit. Gambar 2.2 memberikan ilustrasi jaringan irigasi semi teknis sebagai bentuk pengembangan dari jaringan irigasi sederhana. Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen. Bangunan sadap serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur. Disamping itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang. Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke petak tersier. Untuk memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil.

2.1.1 Petak tersier
Petak tersier terdiri dari beberapa petak kuarter masing-masing seluas kurang lebih 8 sampai dengan 15 hektar. Pembagian air, eksploitasi dan perneliharaan di petak tersier menjadi tanggungjawab para petani yang mempunyai lahan di petak yang bersangkutan dibawah bimbingan pemeintah. Petak tersier sebaiknya mempunyai batas-- batas yang jelas, misalnya jalan, parit, batas desa dan batas-batas lainnya. Ukuran petak tersier berpengaruh terhadap efisiensi pemberian air. Beberapa faktor lainnya yang berpengaruh dalam penentuan luas petak tersier antara lain jumlah petani, topografi dan jenis tanaman. Apabila kondisi topografi memungkinkan, petak tersier sebaiknya berbentuk bujur sangkar atau segi empat. Hal ini akan memudahkan dalam pengaturan tata letak dan perabagian air yang efisien. Petak tersier sebaiknya berbatasan langsung dengan saluran sekunder atau saluran primer. Sedapat mungkin dihindari petak tersier yang terletak tidak secara langsung di sepanjang jaringan saluran irigasi utama, karena akan memerlukan saluran muka tersier yang mebatasi petak-petak tersier lainnya.



2.1.2 Petak Sekunder
Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder menerima air dari bangunan bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder. Batas-batas petak sekunder pada urnumnya berupa tanda topografi yang jelas misalnya saluran drainase. Luas petak sukunder dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi topografi daerah yang bersangkutan. Saluran sekunder pada umumnya terletak pada punggung mengairi daerah di sisi kanan dan kiri saluran tersebut sampai saluran drainase yang membatasinya. Saluran sekunder juga dapat direncanakan sebagai saluran garis tinggi yang mengairi lereng lereng medan yang lebih rendah.



2.1.3 Petak Primer
Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang mengambil langsung air dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh satu saluran primer yang mengambil air langsung dari bangunan penyadap. Daerah di sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani dengan mudah dengan cara menyadap air dari saluran sekunder. Apabila saluran primer melewati sepanjang garis tinggi daerah saluran primer yang berdekatan harus dilayani langsung dari saluran primer.



2.2 Bangunan Irigasi
Keberadaan bangunan ingasi diperlukan untuk menunjang pengambilan dan pengaturan air irigasi Beberapa jenis bangunan irigasi yang sering dijurnpai dalam praktek irigasi antara lain 

(1) bangunan utama, 
(2) bangunan pembawa, 
(3) bangunan bagi, 
(4) bangunan sadap, 
(5) bangunanm pengatur muka air, 
(6) bangunan pernbuang dan penguras serta 
(7) bangunan pelengkap.



BANGUNAN UTAMA

Bangunan utama dimaksudkan sebagai penyadap dari suatu sumber air untuk dialirkan ke seluruh daerah irigasi yang dilayani. Berdasarkan sumber airnya, bangunan utarna dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, 
(1) bendung, 
(2) pengambilan bebas, 
(3) pengambilan dari waduk, dan 
(4) stasiun pompa.



a. Bendung
Bendung adalah adalah bangunan air dengan kelengkapannya yang dibangun melintang sungai atau sudetan yang sengaja dibuat dengan maksud untuk meninggikan elevasi muka air sungai. Apabila muka air di bendung mencapai elevasi tertentu yang dibutuhkan, maka air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke tempat-ternpat yang mernerlukannya. Terdapat beberapa jenis bendung, diantaranya adalah 
(1) bendung tetap (weir), 
(2) bendung gerak (barrage) dan 
(3) bendung karet (inflamble weir). 

Pada bangunan bendung biasanya dilengkapi dengan bangunan pengelak, peredam energi, bangunan pengambilan, bangunan pembilas , kantong lumpur dan tanggul banjir.



b. Pengambilan bebas
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat ditepi sungai menyadap air sungai untuk dialirkan ke daerah irigasi yang dilayani. Perbedaan dengan bendung adalah pada bangunan pengambilan bebas tidak dilakukan pengaturan tinggi muka air di sungai. Untuk dapat mengalirkan air secara, gravitasi muka air di sungai harus lebih tinggi dari daerah irigasi yang dilayani.



c. Pengambilan dari waduk
Salah satu fungsi waduk adalah menampung air pada saat terjadi kelebihan air dan mengalirkannya pada saat diperlukan. Dilihat dari kegunaannya, waduk dapat bersifat eka guna dan multi guna. Pada urnumnya waduk dibangun memiliki banyak kegunaan seperti untuk irigasi, pernbangkit listrik, peredam banjir, pariwisata, dan perikanan. Apabila salah satu kegunaan waduk untuk irigasi, maka pada bangunan outlet dilengkapi dengan bangunan sadap untuk irigasi. Alokasi pernberian air sebagai fungsi luas daerah irigasi yang dilayani serta karakteristik waduk.



d. Stasiun Pompa
Bangunan pengambilan air dengan pompa menjadi pilihan apabila upaya-upaya penyadapan air secara gravitasi tidak memungkinkan untuk dilakukan, baik dari segi teknik maupun ekonomis. Salah satu karakteristik pengambilan irigasi dengan pompa adalah investasi awal yang tidak begitu besar namun biaya operasi dan eksploitasi yang sangat besar.



BANGUNAN PEMBAWA

Bangunan pernbawa mempunyai fungsi mernbawa / mengalirkan air dari surnbemya menuju petak irigasi. Bangunan pernbawa meliputi saluran primer, saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kwarter. Termasuk dalam bangunan pernbawa adalah talang, gorong-gorong, siphon, tedunan dan got miring. Saluran primer biasanya dinamakan sesuai dengan daerah irigasi yang dilayaninya. Sedangkan saluran sekunder sering dinamakan sesuai dengan nama desa yang terletak pada petak sekunder tersebut.



Berikut ini penjelasan berbagai saluran yang ada dalam suatu sistern irigasi.

a) Saluran primer membawa air dari bangunan sadap menuju saluran sekunder dan ke petak-petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir.
b) Saluran sekunder membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran primer menuju petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan sadap terakhir
c) Saluran tersier membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran sekunder menuju petak-petak kuarter yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks tersier terkahir
d) Saluran kuarter mernbawa air dari bangunan yang menyadap dari boks tersier menuju petak-petak sawah yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks kuarter terkahir



BANGUNAN BAGI DAN SADAP

Bangunan bagi merupakan bangunan yang terletak pada saluran primer, sekunder dan tersier yang berfungsi untuk membagi air yang dibawa oleh saluran yang bersangkutan. Khusus untuk saluran tersier dan kuarter bangunan bagi ini masingmasing disebut boks tersier dan boks kuarter. Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer atau sekunder menuju saluran tersier penerima. Dalam rangka penghematan bangunan bagi dan sadap dapat digabung menjadi satu rangkaian
bangunan.

Bangunan bagi pada saluran-saluran besar pada umumnya mempunyai 3 (tiga) bagian utama, yaku.

a) Alat pembendung, bermaksud untuk mengatur elevasi muka air sesuai dengan tinggi pelayanan yang direncanakan
b) Perlengkapan jalan air melintasi tanggul, jalan atau bangunan lain menuju saluran cabang. Konstruksinya dapat berupa saluran terbuka ataupun gorong-gorong. Bangunan ini dilengkapi dengan pintu pengatur agar debit yang masuk saluran dapat diatur.
c) Bangunan ukur debit, yaitu suatu bangunan yang dimaksudkan untuk mengukur besarnya debit yang mengalir.

BANGUNAN PENGATUR DAN PENGUKUR

Agar pemberian air irigasi sesuai dengan yang direncanakan, perlu dilakukan pengaturan dan pengukuran aliran di bangunan sadap (awal saluran primer), cabang saluran jaringan primer serta bangunan sadap primer dan sekunder. Bangunan pengatur muka air dimaksudkan untuk dapat mengatur muka air sampai batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan debit yang konstan dan sesuai dengan yang dibutuhkan. Sedangkan bangunan pengukur dimaksudkan untuk dapat memberi informasi mengenai besar aliran yang dialirkan. Kadangkala, bangunan pengukur dapat juga berfungsi sebagai bangunan pangatur. Beberapa contoh bangunan pengukur debit diberikan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Beberapa Jenis Alat Ukur Debit

Tipe Alat Ukur Mengukur Dengan Kemampuan
Mengatur
Ambang Lebar aliran atas tidak
Parshal Flume afiran atas tidak
Cipoletti aliran atas tidak
Romijn aliran atas ya
Crump de Gruyter aliran bawah ya
Constant Head Orifice aliran bawah ya
Bangunan Sadap pipa sederhana aliran bawah ya
Sumber Kriteria Perencanaan Irigasi (KP 01)



BANGUNAN DRAINASE

Bangunan drainase dimaksudkan untuk membuang kelebihan air di petak sawah maupun saluran. Kelebihan air di petak sawah dibuang melalui saluran pernbuang, sedangkan kelebihan air disaluran dibuang melalui bengunan pelimpah. Terdapat beberapa jenis saluran pembuang, yaitu saluran pembuang kuerter, saluran pernbuang tersier, saluran pernbuang sekunder dan saluran pernbuang primer. Jaringan pembuang tersier dimaksudkan untuk :

a) Mengeringkan sawah
b) Mernbuang kelebihan air hujan
c) Mernbuang kelebihan air irigasi

Saluran pernbuang kuarter menampung air langsung dari sawah di daerah atasnya atau dari saluran pernbuang di daerah bawah. Saluran pernbuang tersier menampung air buangan dari saluran pernbuang kuarter. Saluran pernbuang primer menampung dari saluran pernbuang tersier dan membawanya untuk dialirkan kernbali ke sungai.



BANGUNAN PELENGKAP
Sebagaimana namanya, bangunan pelengkap berfungsi sebagai pelengkap bangunan-bangunan irigasi yang telah disebutkan sebelumnya. Bangunan pelengkap berfungsi sebagai untuk memperlancar para petugas dalam eksploitasi dan pemeliharaan. Bangunan pelengkap dapat juga dimanfaatkan untuk pelayanan umum. Jenis-jenis bangunan pelengkap antara lain jalan inspeksi, tanggul, jernbatan penyebrangan, tangga mandi manusia, sarana mandi hewan, serta bangunan lainnya.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2001. Peraturan Pemerintah No.77 Tahun 2001 Tentang Irigasi.
Anonim, 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang
Sumber Daya Air.
Direktorat Jenderal Pengairan, 1986. Standar Perencanaan Irigasi (KP. 01-05).
Departemen Pekerjaan Umum, CV. Galang Persada, Bandung.
Fuad Bustomi, 1999. Sistem Irigasi : Suatu Pengantar Pemahaman, Tugas Kuliah
Sistem Irigasi. Program Pascasarjana Program Studi Teknik Sipil UGM,
Yogyakarta (Tidak diterbitkan).
Fuad Bustomi, 2000. Simulasi Tujuh Teknik Pemberian Air Irigasi Untuk Padi di Sawah
dan Konsekuensi Kebutuhan Air Satu Masa Tanam. Tesis Program Pascasarjana
Program Studi Teknik Sipil UGM, Yogyakarta (Tidak diterbitkan).
Michael A.M., 1978. Irrigation Theory and Practices. Vikas Publishing House PVT
LTD, New Delhi.
Mudi Utomo, 1990. Model Matematika Evapotranspirasi Pada Tanah Tidak Jenuh Air.
Tugas Akhir Sarjana. Teknik Sipil UGM, Yogyakarta. (Tidak diterbitkan).
Partowijoto, A., 1999. Peningkatan Efisiensi dan Efektifitas Dalam Pengelolaan Air
Irigasi Oleh Masyarakat : Kendala Teknis dan Non Teknis. Prosiding Seminar
Sehari Peningkatan Pendapatan dan Kesejahteraan Petani Melalui Pendekatan
Partisipasi, IESC -RCA bekerjasama dengan Jurusan Teknik Sipil FT UGM,
Yogyakarta.
Sudjarwadi, 1987. Teknik Sumberdaya Ai. Diktat kuliah Jurusan Teknik Sipil UGM,
Yogyakarta.
Sudjarwadi, 1990. Teori dan Praktek Irigasi. Pusat Antar Universitas Ilmu Teknik,
UGM, Yogyakarta
Sudjarwadi 1995, Pengembangan Wilayah Sungai (Wawasan dan Konsep), Diktat
kuliah S-2 Jurusan Teknik Sipil UGM, Yogyakarta.

SALURAN PRIMER, IRIGASI


SALURAN PRIMER
            Saluran primer adalah saluran yang berfungsi membawa air dari sumbernya dan membagikannya ke saluran sekunder. Air yng dibutuhkan untuk saluran irigasi didapat dari sungai, danau, atau waduk. Pada umumnya pengairan yang didapat dari sungai jauh lebih baik dari yang lainnya karena banyak mengandung zat lumpur yang merupakan bentk dari tanaman.
            Pertama-tama dibahas dahulu dari peta situasi yang telah dibuat apakah daerah yang aka dialiri itu cukup dilayani dengan sebuah saluran primer saja atau harus beberapa saluran primer. Yang belakangan sudah tentu merupakan keharusan jika sebuah daerah yang akan diairi terletak sepanjang kanan dan kiri sungai kecuali untuk keadaan tertentu dimana saluran primer tidak mungkin dibuat kekiri dan kekanan.
            Untuk daerah yang berbentuk panjang, yang menuju ke arah sungai ada baiknya digunakan beberapa saluran primeryang masing- masing meneima air langsung dari sungai, sehingga sudah barang tentu harus dibuat beberapa penyadapan sungai sehingga pembuatan meningkat.Tetapi dibalik biaya meningkat tersebut terdapat biaya pembuatan saluran yang lebih murah karena saluran-saluran primer dari beberapa bendung yang berturut-turut akan lebih kecil ukurannya.
            Satu saluran primer saja yang harus melayani daerah yang sempit tapi panjang sekali, harus panjang pula dan bagian dekat bendung biasannya dalam dan harus berukuran besar. Karena panjangnya itu maka banyak saluran yang hilang terutama akibat rembesan. Selanjutnya saluran primer yang demikian itu sedikit banyak harus berjalan sejajar sungai yang berjarak sangat panjang sehingga harus seringkali memotong sungai-sungai atau saluran kecil dan di titik-titik potong itu terpaksa dibuat bangunan-bangunan mahal untuk mengalirkan saluran primer tersebut.
            Jika sungai maupun daerah yang akan diairi mempunyai kemiringan agak besar, sebaiknya daerah tersebut dibagi-bagi atas beberapa daerah irigasi yang lebih kecil, Oleh karena itu saluran primer membutuhkan beberapa bendung dan bangunan lainnya yang mahal agar kemiringan saluran tersebut maupun kecepatan airnya tidak terlalu besar. Tetapi jika daerah yang akan diairi dibagi beberapa daerah irigasi yang lebih kecil maka airnya dengan mudah dapat disalurkan sungai itu sendiri yang disana-sininya disadap untuk memberikan air. Adapun daerah yang dapat diari oleh saluran garis tinggi hanya disalah satu saluran garis tingginya.
ΓΌ  Trase Jalur Saluran
Beberapa hal yang perlu dalam perencanaan trase saluran, antara lain :
·         Trase saluran berupa garis lurus sejauh mungkin, apabila harus berbelok maka dibuat lengkung-lengkung yang bulat.
·         Tinggi muka air diusahakan mendekati ketinggian medan atau lebih tinggi dari medan sekelilingnya guna mengairi sawah-sawah disebelahnya.
·         Jumlah galian (cut) dan timbunan (fill) diusahakan seimbang, hal ini berkaitan dengan meminimalkan biaya konstruksi saluran.
Dalam jaringan irigasi, trase saluran primer pada umumnya kurang lebih paralel dengan garis-garis tinggi (saluran garis tinggi) dengan saluran-saluran sekundernya di sepanjang punggung medan. Oleh sebab itu, perencanaan trase saluran primer lebih kompleks karena parameter-parameter seperti kemiringan dasar, bangunan-bangunan silang dan ketinggian pada pengambilan yang dipilih di sungai harus dievaluasi.
Untuk penentuan trase saluran primer, ada dua keadaan yang mungkin terjadi, yakni :
a.       Debit yang tersedia untuk irigasi berlimpah dibandingkan dengan tanah irigasi yang ada.
b.      Debit yang tersedia menjadi terbatas, akibat lahan yang akan diari diambil secara maksimum.
Pada (a) setelah perkiraan lokasi dan tinggi pengambilan diketahui, maka luas daerah irigasi bergantung kepada kemiringan dasar saluran prmer yang dipilh dan kehilangan tinggi enegi yang diperlukan di bangunan-bangunannya. Kehilangan tinggi energi di saluran primer akan dipertahankan sampai tingkat minimum sejauh hal ini dapat dibenarkan dari segi teknis (sedimentasi) dan ekonomis (ukuran saluran dan bangunan yang besar). Berbagai trase alternatif yang baik dari segi teknis harus pula diperhitungkan segi ekonomisnya agar bisa dicapai pemecahan yang terbaik.
Pada (b) dengan luas daerah irigasi yang tetap , perencanaan saluran primer tidak begitu menetukan, dan kehilangan tinggi energi tidak harus dibuat minimum. Tinggi muka air dan trase yang dipilh untuk saluran primer harus memadai untuk bisa mencukupi kebutuhan air maksimum di daerah yang bisa diairi. Biaya pelaksanaan saluran bisa diusahakan lebih rendah karena saluran dan bangunan dapat dibuat dengan ukuran yang lebih kecil.
Untuk saluran primer yang paralel dengan garis tinggi pada umumnya terdapat dua pilihan untuk dapat menentukan letak as salurannya, yaitu :
a.       Saluran primer timbunan dengan muka air di atas muka tanah asli (natural surface).
b.      Saluran primer galian dengan tinggi muka air kurang lebih sama dengan muka tanah.
Keuntungan pada pilihan (a) saluran primer timbunan adalah semua lahan disebelahnya dapat diairi dari saluran primer. Kerugiannya adalah dibutuhkan biaya pembuatan yang mahal, karena adanya timbunan.
Keuntungan pada pilihan (b) saluran primer galian adalah biaya pembuatan yang dapat ditekan minimal (ekonomis). Kerugiannya adalah lahan yang bisa diari menjadi terbatas. Namun ini merupakanhal baik karena jalur-jalur saluran di sepanjang saluran primer bisa dijadikan tempat permukiman warga sekitar.
Trase sedapat mungkin harus berupa garis-garis lurus. Sambungan antar ruas-ruas lurus berbentuk kurve bulat dengan jari-jari yang makin membesar dengan bertambahnya ukuran saluran.
Untuk saluran garis tinggi yang dimensinya besar, jika medannya tidak teratur, maka trase salurannya tidak bisa dengan tepat paralel dengan garis tinggi tersebut. Kadang-kadang diperlukan satu jalur pintas (short cut) berupa galian maupun timbunan. Untuk itu perlu dipertimbangkan hal-hal berikut :
·         Jari-jari minimum kelengkungan mendatar (belokan) saluran adalah 8 kali lebar muka air rencana, dan dengan demikan bergantung pada debit rencana.
·         Jalur pintasan tersebut kemungkinan memperbesar lintasan, tapi bisa juga memperbesar biaya konstrksi.
·         Jalur pintasan yang  memendek berarti akan mengurangi/memperkecil total kehilangan energi.
·         Jalur pintasan yang melewati cekungan akan menyebabkan saluran irigasi dan saluran pembuang  ruas sebelahnya menjadi  rumit dan btuh bangunan persilangan.
Kemiringan memanjang saluran ditentukan oleh garis-garis tinggi dan lereng saluran. Bahaya erosi pada saluran tanah akan membatasi kemiringan maksimum dasar saluran. Jika kemiringan maksimum yang diizinkan lebih landai dari pada kemiringan yang ada, maka pada jalur itu memerlukan suatu bangunan terjun. Jikan kemiringan tanah/medan lebih landai dari kemiringan minimum, maka kemiringan dasar saluran akan dibuat sama dengan kemiringan lahan yang ada.
Kemiringan maksimum dasar saluran tanah ditentukan dari kecepatan rata-rata alirannya. Kecepatan maksimum aliran yang diizinkan akan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah.
IMG00131-20111005-1437.jpg
ΓΌ  Pengambilan Saluran Primer
Pengambilan dari kantong lumpur ke saluran primer digabung menjadi satu bangunan dengan pembilas agar seluruh panjang kantong lumpur dapat di manfaatkan. Agar suapaya air tidak mengalir kembali ke saluran primer selama pembilasan, pengambilan harus ditutup (dengan pintu) atau ambang dibuat cukup tinggi agar air tidak mengalir kembali.
Selain mengatur debit, bangunan ini juga harus bisa mengukurnya. Kedua fungsi tersebut, mengukur dan mengatur, dapat digabung tau dipisah. Untuk tipe gabungan, pintu Romijen atau Crump-de gruyter dapat dianjurkan untuk dipakai sebagai pintu pengambilan.
Khususnya untuk mengukur dan mengatur debit yang besar, kedua fungsi ini lebih baik dipisah. Dalam hal ini fungsi mengatur dilakukan dengan pintu sorong atau pintu radial, dan fungsi mengukur dngan alat ukur ambang lebar.

ΓΌ  Kemiringan Saluran
Untuk menekan biaya pembebasan tanah dan penggalian, talut saluran direncanakan securam mungkin. Bahan tanah, kedalaman saluran dan terjadinya rembesan akan menentukan kemiringan minimum untuk talut yang stabil.
Kemiringan galian minimum untuk berbagai bahan tanah disajikan pada Tabel 3.2.
Bahan Tanah
Simbol
Kisaran Kemiringan
Batu

< 0,25
Gambut kenyal
Pt
1 – 2
Lempung kenyal, geluh, Tanah lus
CL,CH,MH
1 - 2
Lempung pasiran, tanah pasiran kohesif
SC, SM
1,5 – 2,5
Pasir lanauan
SM
2 – 3
Gambut lunak
Pt
3 - 4


            Sedangkan untuk harga kemiringan minimum untuk saluran tanah yang dibuat dengan bahan – bahan kohesif yang dipadatkan dengan baik diberikan pada Tabel 3.3.
Kedalaman air + Tinggi jagaan
D ( m )
Kemiringan minimum talut
D ≤ 1.0
1 : 1
1.0 < D ≤ 2.0
1 : 1,5
D > 2.0
1 : 2

            Talut yang lebih landai daripada yang telah disebutkan dalam tabel di atas harus dipakai apabila apabila terjadi rembesan kedalam saluran.
            Untuk tanggul yang tingginya lebih dari 3 m  lebar bahu tanggul harus dibuat sekurang – kurangnya 1 m ( setiap 3 m ). Bahu tanggul harus dibuat setinggi muka air rencana di saluran. Untuk kemiringan luar, bahu tanggul ( jika perlu ) harus terletak di tengah – tengah antara bagian atas dan pangkal tanggul.

ΓΌ  Lengkung Saluran
Lengkung yang diizinkan untuk saluran tanah bergantung kepada :
·         Ukuran dan kapasitas saluran
·         Jenis tanah
·         Kecepatan aliran
Jari – jari minimum lengkung seperti yang diukur pada as harus diambil sekurang – kurangnya 8 kali lebar atas pada lebar permukaan air rencana.
Jika lengkung saluran diberi pasangan, maka jari – jari minimumnya dapat dikurangi. Pasangan semacam ini sebaiknya dipertimbangkan apabila jari – jari lengkung saluran tanpa pasangan terlalu besar untuk keadaan topografi setempat. Panjang pasangan harus dibuat paling sedikit 4 kali kedalaman air pada tikungan saluran.
Jari – jari minimum lengkung saluran yang diberi pasangan harus seperti berikut :
·         3 kali leber permukaan air untuk saluran – saluran kecil ( < 0,6 m3/dt ), dan sampai dengan
·         7 kali lebar permukaan air untuk saluran–saluran yang besar ( > 10 m3/dt )

ΓΌ  Tinggi Jagaan
Tinggi jagaan berguna untuk :
·         Menaikkan muka air diatas tinggi muka air maksimum
·         Mencegah kerusakan tanggul saluran
Meninggikan muka air sampai di atas tinggi yang telah direncanakan bisa disebabkan oleh penutupan pintu tiba – tiba disebelah hilir, variasi ini kan bertambah dengan membesarnya debit. Meningginya muka air dapat pula diakibatkan oleh pengaliran air buangan ke dalam saluran.
Tinggi jagaan minimum yang diberikan pada saluran primer dan sekunder dikaitkan dengan debit rencana saluran seperti yang diperlihatkan dalam tebel berikut.
Q (m3/dt )
Tinggi Jagaan ( m )
< 0,5
0,40
0,5 – 1,5
0,50
1,5 – 5
0,60
5,0 – 10,0
0,75
10,0 – 15,0
0,85
>15,0
1,00
ΓΌ  Tinggi Jagaan
Untuk tujuan – tujuan eksploitasi, pemeliharaan dan ekspensi akan diperlukan tanggul sepanjang saluran dengan lebar minimum seperti yang disajikan dalam tabel berikut :
Debit rencana ( m3/dt )
Tanpa jalan inspeksi(m)
Dengan jalan inspeksi (m)
Q ≤ 1
1,00
3,00
1 < Q < 5
1,50
5,00
5 < Q ≤ 10
2,00
5,00
10 < Q ≤ 15
3,50
5,00
Q > 15
3,50
˜ 5,00
           
            Jalan inspeksi terletak di tepi saluran di sisi yang diairi agar bangunan sadap dapat dicapai secara langsung dan usaha penyadapan liar makin sulit dilakukan. Lebar jalan inspeksi dengan perkerasan adalah 5,0 m atau lebih dengan lebar perkerasan sekurang – kurangnya 3 meter.