Perhitungan Kubikasi Rancangan Geometrik Jalan Raya

Berikut cara memperhitungkan KUBIKASI rancangan geometrik jalan raya, dan disini hanya saya jelaskan sepintas saja, dan satu sample gambar saja :)

Gambar Bendung

Gambar bendung.

Pemasangan Bouwplank

Ilmu teknik sipil – Bouwplank (papan bangunan) berfungsi untuk mendapatkan titik-titik bangunan yang diperlukan sesuai dengan hasil pengukuran:

Format Surat Teguran Keterlambatan Proyek/Pekerjaan

Format Surat Teguran Keterlambatan Proyek/Pekerjaan

Beton Serat

Beton serat adalah beton yang cara pembuatannya ditambah serat[1]. Tujuan penambahan serat tersebut adalah untuk meningkatkan kekuatan tarik beton, sehingga beton tahan terhadap gaya tarik akibat, cuaca, iklim dan temperatur yang biasanya terjadi pada beton dengan permukaannya yang luas.

Pelaksanaan dan Laporan Kegiatan Lapangan


Program Pelaksanaan

        Penyedia jasa harus melaksanakan program dan jadual pelaksanaan sesuai dengan syarat-syarat dokumen lelang dengan menggunakan bar chart dan kurva S. Aktifitas yang terlihat pada program harus sudah termasuk pelaksanaan pekerjaan sementara dan tetap.


Laporan Bulanan Kemajuan Pelaksanaan

        Setiap bulannya kontraktor harus membuat dua kali laporan yaitu pada pertengahan bulan dan akhir bulan, yang menggambarkan secara detail kemajuan pekerjaan. Laporan sekurang-kurangnya harus berisi hal-hal sebagai berikut:

  • Persentase kemajuan pekerjaan bedasarkan kenyataan yang dicapai pada bulan laporan dan persentase rencana yang diprogramkan pada bulan berikutnya.
  • Persentase dari tiap pekerjaan pokok yang diselesaikan maupun prosentase rencana pekerjaan harus sesuai dengan yang dicapai pada laporan
  • Rencana kegiatan untuk bulan berikutnya.

Laporan Harian

    Kontraktor harus membuat laporan harian atas setiap kegiatan yang dilaksanakan, persiapan pekerjaan dan peralatan serta data-data lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.


Foto Kemajuan Pekerjaan

        Penyedia jasa harus menyerahkan photo kemajuan pekerjaan kepada direksi pekerjaan mengenai kemajuan pekerjaan pada lokasi pekerjaan selama masa kontrak. Foto diambil pada waktu:

  • Sebelum pekerjaan dimulai atau pada waktu pemasangan bouwplank
  • Kemajuan pekerjaan mencapai 50 % (sedang dilaksanakan)
  • Kemajuan pelaksanaan 100 %
  • Selesai masa pemeliharaan


Note: Format laporan disesuaikan dengan devisi pekerjaan dan jenis pekerjaan

SPESIFIKASI TEKNIS (BAHAN - BAHAN UMUM) - TULANGAN

 BESI TULANGAN


A. Bahan-bahan dan Ukuran Tulangan

        Semua tulangan beton harus baru dan sesuai dengan Standar Indonesia (SNI 2052:2017 atau aturan yang berlaku lainnya) serta disetujui oleh direksi pekerjaan.


B. Pembuatan dan Pembersihan

        Tulangan beton, sebelum dipasang harus bebas dari kotoran-kotoran, minyak, oli dan lapisan yang akan merusak atau mengurangi mutu. Tulangan harus dilekukkan dengan tepat menurut ukuran yang ditunjukkan  pada gambar-gambar yang dilampirkan atau gambar konstruksi yang harus diselesaikan oleh kontraktor.

    Tulangan jangan diluruskan atau dilekukkan kembali dengan cara yang akan merusak bahan. Batangan dengan putaran/lekukan  yang tidak ditunjukkan pada gambar janganlah digunakan.  Semua batangan harus dilekukkan dalam keadaan dingin. Pemanasan hanya diperbolehkan bila seluruh operasi disetujui oleh direksi pekerjaan.


C. Pemasangan

  • Tulangan harus ditempatkan secara tepat dan dijamin terhadap penggesekan dengan menggunakan ikatan kawat besi atau klip-klip yang cocok pada persilangan, dan harus diganjal dengan kepingan beton atau logam sesuai dengan keperluan konstruksi.  Didalam semua hal, pengganjal yang cukup untuk tulangan mendatar harus digunakan sehingga tidak akan ada pelenturan batangan.
  • Tulangan di dalam plat beton di atas tanah harus ditopang dengan beton yang dicor sebelumnya.


D. Sambungan

        Bila diperlukan menyambung  tulangan pada satu titik selain dari yang ditunjuk pada gambar, ciri sambungan harus disetujui oleh direksi pekerjaan.


E. Pengukuran dan Pembayaran

  • Harga satuan kontrak di dalam daftar kuantitas dan harga dimana tulangan digunakan, akan meliputi harga yang tepat dimana tulangan digunakan, pembongkaran, penyimpanan, penanganan dan pemasangan  di tempat-tempat pemakaian akhir di dalam konstruksi beton tulang dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.
  • Tidak ada pembayaran tersendiri untuk tulangan yang terbuang, hilang atau tidak diperhitungkan sebagai akibat penanganan yang tidak tepat, serta tulangan yang digunakan sebagai pengganti tulangan beton yang rusak atau digunakan oleh penyedia jasa dengan memungkinkan atau memudahkan pelaksanaan konstruksinya.
  • Semua biaya penyediaan tulangan sudah termasuk kedalam harga satuan penawaran seperti di dalam daftar kuantitas dan harga untuk uraian yang tepat dimana tulangan digunakan.


Note: Ini hanya contoh, spesifikasi teknis bisa saja berbeda, karena disusun oleh Panitia Pengadaan sesuai dengan referensi yang dipunya.

SPESIFIKASI TEKNIS (BAHAN - BAHAN UMUM) - AGREGAT

 PASIR, AGREGAT DAN BAHAN-BAHAN PERKUATAN


1. Agregat Halus (Pasir)

Sesuai  dengan  ketentuan  type  dan  jenis  pasir  yang  dibutuhkan  dalam  pekerjaan konstruksi, adalah : Pasir alam (natural sand), dimana pasir diambil dari sungai-sungai ataupun pasir yang didapat dari lain sumber, dan ini semua harus disetujui oleh direksi pekerjaan.

Deposit pasir alam harus dibersihkan dari vegetasi, bahan-bahan lain yang mengotori dan yang dapat menjadikan kualitas pasir menjadi jelek.

(Penejalasan ini bisa diambil dari berbagai sumber)


2. Agegrat Kasar (Kerikil)

Agregat  kasar  harus  didapat  dari  sumber-sumber  yang  telah  disetujui  oleh direksi pekerjaan yang terdiri dari kerikil, batu gunung atau campuran dari keduanya.Agregat kasar harus bersih dan bebas dari bahan-bahan lunak.

Agregat kasar harus dengan gradasi yang baik dengan ukuran butir 5 mm – 50 mm.

(Penejalasan ini bisa diambil dari berbagai sumber)


3. Bahan-bahan Perkuatan atau Batu

Batu diperoleh dari suatu tempat pengambilan yang telah disetujui direksi pekerjaan. Batu-batu yang dipakai adalah batu kali (boulder) atau batu gunung.

Batu yang akan dipakai untuk beberapa keperluan dalam pekerjaan ini haruslah batu pecah (belah) yang ukurannya disesuaikan dengan keperluan atau gambar kerja.

Batu yang digunakan untuk konstruksi talud, batu pelindung (armor rock) harus dari batu yang bersifat keras, Specific Gravity *Gs) 2,5 Ton/m3, tidak menunjukkan tanda lapuk,  bentuk  persegi  panjang  tak  beraturan,  bergradasi  baik,  dengan  ukuran  sesuai dengan persyaratan, berupa batu belah  yang berasal dari batu kali atau batu gunung. Batu yang tidak bersudut sama sekali tidak diperbolehkan untuk dipakai.

Untuk  konstruksi  pesangan  batu  kosong,  bentuk  batu  sedemikian  rupa  mengingat pasangannya  tidak  menggunakan  perekat,  sehingga  celah-celah  kosong  dapat  dan harus  diisi  dengan  batu  yang  berukuran  lebih  kecil,  dan  disesuaikan  dengan  gambar desain atau gambar kerja.

Batu untuk pasangan harus dibentuk/dibuat dengan ukuran seperti pada  gambar atau sesuai dengan perintah Direksi.

Note: Ini hanya contoh, spesifikasi teknis bisa saja berbeda, karena disusun oleh Panitia Pengadaan sesuai dengan referensi yang dipunya.

SPESIFIKASI TEKNIS (BAHAN - BAHAN UMUM) - SEMEN PORTLAND

SEMEN PORTLAND

1. Semen Portland

Semen  yang  dipakai  adalah  Semen  Portland  sesuai  dengan  Standard  Indonesia N.I.8,ASTM. Model C.150 atau Standar Inggris Model BS.12. (Biasanya sering juga dirujuk ke SNI 6385 : 2016)


2. Pengujian dan Pemeriksaan

Sampling,  pemeriksaan  dan  pengujian  semen-semen  bila  diperlukan  akan  dilakukan oleh direksi pekerjaan dan bahwa sampling, pengujian dan pemeriksaan harus sesuai dengan Standar Indonesia.

Direksi pekerjaan dapat memeriksa semen yang disimpan dalam gudang setiap waktu sebelum  semen  tersebut  digunakan.  Semen  yang  tidak  memenuhi  syarat  tidak  akan dipakai.


3. Gudang dan Penyimpanan

Bila penyedia  jasa mendatangkan  semen  dalam  jumlah  yang  besar  dimana  semen tersebut  tidak  habis  dipakai  dalam  beberapa  hari,  maka penyedia  jasa harus menyediakan tempat penyimpanan yang baik sehingga semen tersebut terlindung dari kelembaban dan pembekuan.

Untuk menghindari penyimpanan yang terlalu lama, penggunaan semen-semen diatur secara  berurutan  sesuai  dengan  urutan  waktu  pengiriman  (chronological  order)  ke tempat penyimpanan.


Note: Ini hanya contoh, spesifikasi teknis bisa saja berbeda, karena disusun oleh Panitia Pengadaan sesuai dengan referensi yang dipunya.

Contoh Surat Permohonan Uang Muka

 

 KOP PERUSAHAAN 

Contoh Surat Perjanjian Sewa Peralatan Konstruksi

 KOP SURAT PERUSAHAAN PENYEWA ALAT


Contoh Surat Pengantar Lelang

KOP SURAT SKPD

Infrastruktur Sumber Daya Air dan Permasalahannya

        Infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) merupakan model kontinu prakiraan debit air satu langkah kedepan, dengan memanfaatkan perubahan iklim terhadap siklus Hidrologi, membentuk suatu rezim Hidrologi tercatat melalui pengamatan pos-pos utama siklus Hidrologi. Dengan meneliti suatu satuan periode rezim Hidrologi tercatat pada pos-pos utama Hidrologi (P,Q) membuat matriks ketautan komponen-komponen utama siklus Hidrologis dalam ruang dan waktu, dapat dibangun suatu model disebut model kontinu prakiraan debit air sehingga pengelolaan Dam irigasi/waduk dapat dioptimalkan untuk memenuhi suplai air di down stream untuk sektor air irigasi, sektor air DMI dan pembangkit tenaga air (Arwin, Proseding PSDA ITB,1993).

        Ketersediaan sumberdaya air sangatlah beragam secara spatial maupun temporal. Sumber daya air dalam konteks siklus hidrologi merupakan sumber daya yang sangat dinamis. Artinya sumber daya tersebut senantiasa berubah dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lain. Dengan dinamika tersebut, maka ketersediaan dan penggunaan kebutuhan sumber daya air selalu berubah dan dinamis setiap saat. Terjadinya ketimpangan antara kebutuhan dengan ketersediaan akan menimbulkan masalah, yang kemudian disebut sebagai krisis air. Krisis air ini menurut Unesco dibagi menjadi tiga hal besar, yaitu kelangkaan air (water scarcity), kualitas air (water quality), dan bencana berkaitan dengan air (water-related disaster) (Unesco, 2003).

1. Kelangkaan air (Water Scarcity)
Pemanfaatan sumberdaya air bagi kebutuhan umat manusia semakin hari semakin meningkat. Hal ini seirama dengan pesatnya pertumbuhan penduduk di dunia, yang memberikan konsekuensi logis terhadap upaya-upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya. Disatu sisi kebutuhan akan sumberdaya air semakin meningkat pesat dan disisi lain kerusakan dan pencemaran sumberdaya air semakin meningkat pula sebagai implikasi pertumbuhan populasi dan industrialisasi. Sumberdaya air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia paling dominan berasal dari air hujan. Menurut Shiklomanov (1997) dalam Unesco (2003) disebutkan bahwa lebih dari 54% runoff yang dapat dimanfaatkan, digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Apabila tingkat kebutuhan semakin lama semakin tinggi, maka dikuatirkan ketersediaan air tidak mencukupi. Pada saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 2 milyar manusia per hari terkena dampak kekurangan air di lebih dari 40 negara didunia. 1,1 milyar tidak mendapatkan air yang memadai dan 2,4 milyar tidak mendapatkan sanitasi yang layak (WHO/UNICEF, 2000). Implikasinya jelas pada munculnya penyakit, kekurangan makanan, konflik kepentingan antara penggunaan dan keterbatasan air dalam aktivitas-aktivitas produksi dan kebutuhan sehari-hari.

Prediksi pada tahun 2050 secara mencemaskan dikemukakan bahwa 1 dari 4 orang akan terkena dampak dari kekurangan air bersih (Gardner-Outlaw and Engelman, 1997 dalam UN, 2003). Pada saat ini di negara-negara berkembang mempunyai kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air minum per kapita per tahun yaitu 1.7000 m3 sebagai air bersih yang diperlukan untuk aktivitas sehari-hari dan untuk pemenuhan aspek kesehatan. Hal ini sebagian besar terdapat di Afrika, diikuti kemudian oleh Asia dan beberapa bagian di Eropa Timur dan Amerika Selatan (WWAP, 2002).

Sementara itu dalam konteks lokal di Indonesia, kelangkaan air ini telah menjadi permasalahan dalam manajemen sumberdaya air yang harus dipecahkan. Kelangkaan air akan sangat terlihat pada saat musim kemarau datang. Sebagai salah satu contoh, adalah fenomena di Jakarta. Ibu Kota negara ini dialiri 13 sungai, terletak di dataran rendah dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Seiring dengan pertumbuhan penduduk Jakarta yang sangat pesat, berkisar hampir 9 juta jiwa, maka penyediaan air bersih menjadi permasalahan yang rumit. Dengan asumsi tingkat konsumsi maksimal 175 liter per orang, dibutuhkan 1,5 juta meter kubik air dalam satu hari. Neraca Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2003 menunjukkan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) diperkirakan baru mampu menyuplai sekitar 52,13 persen kebutuhan air bersih untuk warga Jakarta. (Kompas, 20 Juni 2005).

2. Kualitas Air (Water Quality)
Meskipun secara kuantitatif terdapat keseimbangan antara jumlah air yang tersedia dengan kebutuhan yang diperlukan, namun saat ini pencemaran air sungai, danau dan air bawah tanah meningkat dengan pesat. Sumber pencemaran yang sangat besar berasal dari manusia, dengan jumlah 2 milyar ton sampah per hari, dan diikuti kemudian dengan sektor industri dan perstisida dan penyuburan pada pertanian (Unesco, 2003). Sehingga memunculkan prediksi bahwa separuh dari populasi di dunia akan mengalami pencemaran sumber-sumber perairan dan juga penyakit berkaitan dengannya.

Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Pencemaran yang diakibatkan oleh adanya limbah industri dan domestik mempunyai banyak akibat buruk. Pencemaran limbah dapat mengakibatkan menurunnya keindahan lingkungan, penyusutan sumberdaya, dan adanya wabah penyakit dan keracunan. Masuknya limbah ke dalam sungai selain memberikan dampak terhadap perubahan fisik air sungai juga memberikan dampak secara khemis dan biologis terhadap air sungai. Secara umum dampak tersebut adalah terjadinya dekomposisi bakteri aerobik, dekomposisi bakteri anaerobik, dan perubahan karakter biotik.

Visi 21 yang diungkapkan PBB terhadap target penyediaan air dan sanitasi adalah: 1) Mengurangi separuh dari proporsi manusia dari tanpa akses menuju fasilitas sanitasi higenis pada tahun 2015, 2) Mengurangi separuh proporsi masyarakat dari tanpa akses air bersih yang berkelanjutan menuju kecukupan secara kuantitatif pada tahun 2015, dan 3) Penyediaan air dan sanitasi yang higenis pada tahun 2015 (WSSCC, 2000).

Secara struktural dan institusional pelaksanaan manajemen perkotaan, industri dan pertanian pada negara-negara berkembang belum berjalan dengan baik. Pada beberapa negara di Asia bahkan sangat buruk, hal tersebut secara deskriptif dinyatakan dalam laporan CSE (1999) tentang gambaran sungai-sungai di India. Dikatakan bahwa sungai-sungai di India, terutama sungai-sungai kecil, semuanya mengandung aliranberbahaya (toxic stream). Dan bahkan sungai yang terbesar seperti Sungai Ganga juga sangat jauh dari katagori sungai bersih. Kondisi ini disebabkan oleh pertumbuhan populasi, modernisasi pertanian, urbanisasi dan industrialisasi-yang semakin hari semakin besar. Sebagaian besar penduduk di kota-kota di India menggantungkan sumber air minumnya dari sungai. Dengan demikian mereka berada pada kondisi dan keadaan yang terancam.

Di Indonesia, sebagai salah satu contoh kasus adalah kondisi pencemaran di Sungai Gajahwong Yogyakarta. Sungai Gajahwong memiliki tidak kurang dari 73 daerah pembuangan sampah, dimana 97%nya merupakan pembuangan dengan kategori sedang sampai dengan banyak, artinya produksi sampah di sepanjang daerah ini sangat besar dan sebagian besar sampahnya berasal dari warga sekitar. Apabila dilihat dari banyaknya titik-titik pembuangan sampah yang ada maka tidak mengherankan bila kualitas air sungai di Gajahwong mengalami penurunan. Hal itu antara lain terlihat dari tingginya kadar Cl yang mencapai 19,8 mg/l pada daerah titik pengamatan disekitar daerah Dayu hingga Terminal Condong Catur, dan bakteri coli yang melebihi 2400 MPN/100ml. Sedangkan di daerah tengah dari titik pengamatan Nologaten hingga Museum Affandi diperoleh nilai Cl sebsar15,8-31,6 mg/l dan kadar coli juga lebih tinggi dari 2400 MPN/100 ml. Sedangkan di daerah hilir dari titik pengamatan daerah Sukowaten hingga Wirokerten diperoleh kadar Cl berkisar dari 26-180 mg/l dan kadar coli 1100 hingga lebih dari 2400 MPN/100ml (Widyastuti dan Marfai, 2004).

3. Bencana alam terkait air (Water Related Disaster)
Sumberdaya air dapat mengakibatkan kerusakan dan bencana di muka bumi. Bencana alam yang terkait dengan sumberdaya air antara lain banjir, kekeringan, pencemaran air tanah, dan tsunami. Pada Tahun 1991-2000 terdapat lebih dari 665.000 manusia meninggal dunia dalam 2.557 kejadian bencana alam. Dimana 90% diantaranya terkait dengan air (Unesco, 2003). Meningkatnya konsentrasi manusia dan meningkatnya infrastruktur pada daerah-daerah rawan seperti pada dataran banjir dan daerah pesisir serta pada daerah-daerah lahan marginal mengindikasikan bahwa terdapat banyak populasi yang hidup dalam tingkat resiko tinggi (Abramotivz, 2001). Banjir merupakan bencana alam terbesar berkaitan dengan air. Fenomena bencana banjir merupakan salah satu dampak dari kesalahan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Banjir terjadi karena beberapa hal;

a. terjadinya penggundulan hutan dan rusaknya kawasan resapan air di daerah hulu. Seperti diketahui bahwa daerah hulu merupakan kawasan resapan yang berfungsi untuk menahan air hujan yang turun agar tidak langsung menjadi aliran permukaan dan melaju ke daerah hilir, melainkan ditahan sementara dan sebagian airnya dapat diresapkan menjadi cadangan air tanah yang memberikan kemanfaatan besar terhadap kehidupan ekologi dan ekosistem (tidak hanya manusia). Tindakan penebangan hutan dan perusakan daerah hulu tidak terlepas dari sebuah alasan untuk memenuhi kebutuhan materialitas manusia.

b. beralih fungsinya penggunaan lahan di daerah hulu dari kawasan pertanian dan budidaya menjadi kawasan permukiman dan kawasan terbangun juga mengakibatkan aliran permukaan yang lebih besar ketika hujan turun. Aliran permukaan yang besar akan menyebabkan terjadinya banjir apabila kapasitas daya tampung saluran sungai dan drainase tidak mencukupi. Fenomena perkembangan permukiman juga tidak dapat dielakkan lagi seiring dengan perkembangan pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

c. banjir juga disebabkan oleh terjadinya pendangkalan di saluran sungai dan drainase akibat terjadinya erosi di daerah hulu. Dengan demikian kapasitas daya tampung menjadi berkurang dan air diluapkan ke berbagai tempat sebagai banjir.

d. banjir juga tidak luput dari perilaku manusia dan dampak dari pembangunan fisik perkotaan. Banyak kawasan terbuka menjadi kawasan terbangun. Daerah terbuka yang dulunya bermanfaat menjadi kawasan peresapan sekarang semakin berkurang. Implikasinya tidak ada lagi atau sangat sedikit sekali air hujan yang dapat diresapkan kedalam tanah sebagai cadangan air tanah, dan sebagian besar di alirkan sebagai aliran permukaan sehingga kapasitas saluran drainase terutama di kawasan perkotaan menjadi tidak memadai.

e. tidak adanya kesadaran dan kepekaan lingkungan dari perilaku masyarakat. Kegiatan pembuangan sampah dan limbah padat industri menyebabkan terjadinya pendangkalan dan penyumbatan aliran sungai (Marfai, 2005).

Selain banjir, kekeringan juga merupakan bencana alam terkait dengan sumberdaya air. Kekurangan sumberdaya air dalam kurun waktu yang lama akan mengakibatkan kekeringan. Kekeringan dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu 1) Kekeringan meteorologis yaitu keadaan suatu wilayah pada saat-saat tertentu terjadi kekurangan (defisit) air karena hujan lebih kecil daripada nilai evapotranspirasinya (penguapan air). Di wilayah ini terjadi kekurangan air pada musim kemarau sehingga masyarakat sudah terbiasa dan menyesuaikan aktivitasnya dengan iklim setempat. Hanya saja, penyimpangan musim masih dapat terjadi. Penyimpangan inilah yang sering menimbulkan bencana kekeringan. 2) Kekeringan hidrologis merupakan gejala menurunnya cadangan air (debit) sungai, waduk-waduk dan danau serta menurunnya permukaan air tanah sebagai dampak dari kejadian kekeringan. Keberadaan hutan perlu dipertahankan dan dilestarikan agar dapat menyimpan air cukup. Dan 3) Kekeringan pertanian, kekeringan muncul karena kadar lengas tanah di bawah titik layu permanen dan dikatakan tanaman telah mengalami cekaman air (Bakosurtanal dan PSBA UGM, 2002).

Implikasi dari bencana kekeringan terhadap pertanian adalah berupa kegagalan panen. Sebagai contoh, gagal panen yang terjadi di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang disebabkan minimnya curah hujan melanda 117 kecamatan mencakup 1.108 desa di 16 kabupaten/kota. Jumlah penduduk korban gagal panen mencapai 101.973 kepala keluarga (KK) atau 452.920 jiwa (Indomedia, 2005). Di berbagai daerah di Indonesia, terutama bagian timur, yang curah hujannya relatif lebih rendah dibandingkan di bagian barat, maka pada musim kemarau panjang lebih sering terkena bencana kekeringan, galgal panen dan gizi buruk.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu Proyek

            Mutu merupakan salah satu faktor utama yang diharapkan dapat terpenuhi setelah proyek konstruksi selesai dikerjakan. Ada beberapa faktor-faktor pengaruh terhadap mutu pada sebuah proyek, dan ini biasanya di sebut dengan istilah 6M yaitu, Man, Money, Materials, Machines, Method dan Markets. Untuk lebih jelasnya, mari kita rincikan dibawah ini untuk setiap faktornya:

1. Man
        Merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa adanya manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan.

2. Money
        Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini berhubungan dengan berapa harga uang yang harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.

3. Material
        Terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidak dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.

4. Machine
        Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.

5. Method
        Adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode saat dianyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan, dengan demikian peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.

6. Market 
        Pasar adalah tempat dimana organisasi menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan terhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

Sumber: Bahan Kuliah Manajemen Infrastruktur

Contoh Pre Contructions Risk Assesment (PCRA) Rumah Sakit

    Dokumen Pre Contructions Risk Assesment (PCRA) bukan hal asing lagi bagi Kontraktor/Rekanan/Penyedia Jasa Konstruksi yang pernah bekerja di lingkungan Rumah Sakit. Karena ini merupakan syarat wajib yang harus disetujui oleh pihak penyedia jasa dan Rumah Sakit, agar setiap pekerjaan kedepan benar-benar aman dan terkendali dalam hal K3. Berikut salah satu contoh form PCRA salah satu Rumah Sakit.

Di atas formnya, biasanya tertulis seperti dibawah ini:

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA PEMBANGUNAN GEDUNG BARU 
DI RSUD ......... (diisi sesuai nama rumah sakit) 
DALAM MEMATUHI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3RS) 
SERTA PENCEGAHAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI)

Sedangkan untuk formnya, seperti dalam Tabel di bawah ini: 

Lokasi konstruksi:

Tanggal mulai proyek:

Koordinator Proyek:

Perkiraan durasi:

Pekerjaan konstruksi:

Tanggal kadaluarsa:

Supervisor:

Telephone:

YA

TIDAK

AKTIVITAS KONSTRUKSI

YA

TIDAK

KELOMPOK BERISIKO

 

 

TIPE A: Inspeksi, aktifitas non invasif

 

 

Kelompok 1: Risiko rendah

 

 

TIPE B: Skala kecil, durasi pendek, tingkat sedang – tinggi

 

 

Kelompok 2: Risiko sedang

 

 

TIPE C: Kegiatan yang menghasilkan debu tingkat sedang sampai tinggi, membutuhkan waktu penyelesaian lebih dari 1 shift.

 

 

Kelompok 3: Risiko tinggi

 

 

TIPE D: Kegiatan konstruksi level tinggi. Membutuhkan waktu penyelesaian yang panjang.

 

 

Kelompok 4: Risiko sangat tinggi

 

 

1.     Terdapat pagar pembatas proyek dengan area perawatan di RS. Pagar dipasang setinggi 2M dengan bahan tahan lama

 

 

2.     Terdapat rambu-rambu berupa papan nama proyek, symbol, tanda larangan merokok,

 

 

3.     Lokasi proyek minimal mempunyai 2 akses utama jalan keluar yang mudah teridentifikasi sebagai jalur evakuasi dan pintu keluar masuk area proyek

 

 

4.     Terdapat akses pasien sementara yang memadai selama proses konstruksi berlangsung

 

 

5.     Area proyek harus menerapkan 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin)

 

 

6.     Terdapat akses pasien sementara yang memadai selama proses kontruksi berlangsung

 

 

7.     Terdapat kamar mandi semntara untuk pekerja proyek

 

 

8.     Pekerjaan kontruksi dapat teridentifikasi (ID Card/Seragam) dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dan disediakan oleh kontraktor pelaksana

 

 

9.     APD yang digunakan dilokasi proyek minimal helm proyek, Earplug, sepatu safety dan sarung tangan

 

 

10.  Kontraktor menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) yang siap digunakan dilokasi proyek

 

 

11.  Kontraktor menyediakan kotak P3K yang memadai dan siap digunakan (minimal tersedia perban steril, iodine, antiseptic, plester, gunting)

 

 

12.  Proyek diharapkan memiliki kegiatan rapat rutin dan safety talk/briefing untuk pekerja

 

 

13.  Kontraktor memastikan keamanan sumber listrik yang digunakan dalam proses konstruksi

 

 

14.  Area RS bebas dari asap rokok dan api

 

 

15.  Pengukuran fisik pada area proyek dan lingkungan sekitar proyek sesuai dengan persyaratan:

a.     Kebisingan melebihi nilai ambang batas (NAB :85 dB)

b.    Getaran alat kerja yang kotak langsung maupun tidak langsung pada lengan dan tangan pekerja tidak melebihi 4mg/det²

c.     Getaran yang kontak langsung maupun tidak langsung pada seluruh tubuh tidak melebihi 0,5 m/det²

d.    Kandungan debu maksimal didalam udara area lokasi proyek dan lingkungan sekitarnya tidak melebihi 0,5 mg/m²

 

 

16.  Pada proyek yang menggunakan B3 (bahan berbahaya dan beracun) harus melakukan pengelolaan B3 sesuai dengan standard prosedur operasional sebagai berikut :

a.     Tempat penyimpanan B3 harus terpisah dari bahan lain dan dirancang sesuai karakteristik B3

b.    Tempat penyimpanan B3 wajib dilengkapi system tanggap darurat.

c.     B3 yang disimpang harus memiliki MSDS (material safety data sheet)

d.    B3 yang disimpan dapat diidentifikasi jenis dan karakteristiknya

e.     Apalagi kegiatan proyek memiliki limbah B3, maka tempat pembuangannya harus terpisah dari limbah lain dan berkoordinasi dengan sanitasi

f.     Apalagi proyek menggunakan B3 atau menghasilkan limbah B3 wajib melapor ke Komite K3RS

 

 

17.  Kontraktor pelaksana melakukan sosialisasi pada seluruh proyek mengenai:

a.     prosedur evaluasi pada saat terjadi bencana

b.    lokasi APAR

c.     lokasi  titik kumpul aman

d.    prosedur penanggulangan kebakaran

e.     kode-kode emergensi yang diterapkan RS :

·         code Red           : Kebakaran

·         code blue          : Henti Jatung

·         code Pink          : Peculikan Bayi

·         code Black        : Ancaman Bom 

·         code Green      : Bencana

 

 

18.  Setiap pintu harus mengarah/mengayun keluar

 

 

19.  Bangunan dilengkapi dengan sistem proteksi kebakaran seperti alarm, smoke detector, hydran dan sprinkler.

 

 

20.  Kontraktor wajib melaporkan kejadian kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja kepada komite K3RS

KELAS I

1.     Lakukan pekerjaan konstruksi dengan metode debu minimal.

2.     Segera mengganti plafon yang digunakan untuk  pemeriksaan visual


3.    Pembongkaran minor  untuk perombakan ulang

KELAS II

1.     Menyediakan sarana aktif (peralatan lengkap) untuk mencegah penyebaran debu ke udara.

2.     Memberikan kabut air pada permukaan kerja untuk mengendalikan debu saat proses pemotongan.

3.     Menyegel pintu yang tidak terpakai dengan lakban.

4.     Menutup ventilasi udara.

5.     Bersihkan permukaan kerja dengan pembersih/disinfektan.

6.      Letakkan limbah kontruksi dalam wadah yang tertutup rapat sebelum dibuang.

7.      Lakukan pengepelan basah dan/atau vakum dengan HEPA filter  sebelum meninggalkan area kerja.

8.      Letakkan dust mat (keset debu) di pintu masuk dan keluar area kerja.

9.      Isolasi sistem HVAC di daerah di mana pekerjaan sedang dilakukan, rapikan kembali setelah pekerjaan selesai.





KELAS III

1.     Memperoleh perizinan dari KPPI sebelum kegiatan konstruksi dimulai

2.     Mengisolasi sistem HVAC di area kerja untuk mencegah kontaminasi pada sistem saluran.

3.     Siapkan pembatas area kerja atau terapkan metode kontrol kubus (menutup area kerja dengan plastik dan menyegel dengan vakum HEPA untuk menyedot debu keluar) sebelum konstruksi dimulai.

4.     Menjaga tekanan udara negatif dalam area kerja dengan menggunakan unit penyaringan udara HEPA.

5.     Pembatas area kerja harus tetap dipasang sampai proyek selesai diperiksa oleh Komite K3, KPPI, dan dilakukan pembersihan oleh petugas kebersihan.

6.     Vakum area kerja dengan penyaring HEPA.

7.     Lakukan pengepelan basah dengan pembersih/disinfektan

8.     Lakukan pembongkaran bahan-bahan pembatas area kerja dengan hati-hati untuk meminimalkan penyebaran kotoran dan puing-puing konstruksi.

9.     Letakkan limbah kontruksi dalam wadah yang tertutup rapat sebelum dibuang.

10.  Tutup wadah atau gerobak transportasi limbah.

11.  Setelah pekerjaan selesai, rapikan kembali sistem HVAC.













KELAS IV

1.     Memperoleh perizinan dari KPPI sebelum kegiatan konstruksi dimulai

2.     Mengisolasi sistem HVAC di area kerja untuk mencegah kontaminasi sistem saluran.

3.     Siapkan pembatas area kerja atau terapkan metode kontrol kubus (menutup area kerja dengan plastik dan menyegel dengan vakum HEPA untuk menyedot debu keluar) sebelum konstruksi dimulai.

4.     Menjaga tekanan udara negatif dalam tempat kerja dengan menggunakan unit penyaringan udara HEPA.

5.     Menyegel lubang, pipa, dan saluran.

6.     Membuat anteroom dan mewajibkan semua personel untuk melewati ruangan ini sehingga mereka dapat disedot menggunakan vacuum cleaner HEPA sebelum meninggalkan tempat kerja atau mereka bisa memakai pakaian kerja yang lepas setiap kali mereka meninggalkan tempat kerja.

7.     Semua personil yang memasuki area kerja diwajibkan untuk memakai penutup sepatu. Sepatu harus diganti setiap kali keluar dari area kerja.Pembatas area kerja harus tetap dipasang sampai proyek selesai diperiksa oleh Komite K3, KPPI, dan dilakukan pembersihan oleh petugas kebersihan.

8.     Vakum area kerja dengan penyaring HEPA.

9.     Lakukan pengepelan basah dengan pembersih/disinfektan.

10.  Lakukan pembongkaran bahan-bahan pembatas area kerja dengan hati-hati untuk meminimalkan penyebaran kotoran dan puing-puing konstruksi.

11.  Letakkan limbah kontruksi dalam wadah yang tertutup rapat sebelum dibuang.

12.  Tutup wadah atau gerobak transportasi limbah.

13.  Setelah pekerjaan selesai, rapikan kembali sistem HVAC.












Berikut dokumen ini akan ditandatangani oleh 4 (empat) orang, yaitu:
1. Ketua Komite K3RS
2. Ketua Komite PPI
3. Direktur Rumah Sakit
4. Penyedia Jasa Kontruksi.