Perhitungan Kubikasi Rancangan Geometrik Jalan Raya
Berikut cara memperhitungkan KUBIKASI rancangan geometrik jalan raya, dan disini hanya saya jelaskan sepintas saja, dan satu sample gambar saja :)
Gambar Bendung
Gambar bendung.
Pemasangan Bouwplank
Ilmu teknik sipil – Bouwplank (papan bangunan) berfungsi untuk mendapatkan titik-titik bangunan yang diperlukan sesuai dengan hasil pengukuran:
Format Surat Teguran Keterlambatan Proyek/Pekerjaan
Format Surat Teguran Keterlambatan Proyek/Pekerjaan
Beton Serat
Beton serat adalah beton yang cara pembuatannya ditambah serat[1]. Tujuan penambahan serat tersebut adalah untuk meningkatkan kekuatan tarik beton, sehingga beton tahan terhadap gaya tarik akibat, cuaca, iklim dan temperatur yang biasanya terjadi pada beton dengan permukaannya yang luas.
Drainase Perkotaan
Drainase perkotaan merupakan salah satu sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi kawasan pemukiman, industri dan perdagangan, sekolah, rumah sakit, lapangan olah raga, lapangan parkir dan berbagai fasiliatas umum lainnya yang merupakan bagian dari sarana perkotaan. Desain drainase perkotaan memiliki keterkaitan dengan tata guna lahan dan tata ruang kota.
Drainase merupakan sebuah sistem yang dibuat untuk menangani persoalan kelebihan air yang berada diatas permukaan tanah maupun air yang berada dibawah permukaan tanah. Kelebihan air disebabkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi atau pun akibat durasi hujan yang lama. Drainase sangat berfungsi dalam menangani masalah banjir, perencanaan saluran drainase yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan akan sangat berpengaruh dalam menanggulangi banjir.
Banjir merupakan kejadian yang hampir tiap tahun melanda daerah-daerah Indonesia, contoh kecil bisa dilihat kota lhokseumawe yang hampir setiap tahun dilanda banjir. Penyebab utama banjir adalah tidak tertampungnya debit air oleh saluran sehingga terjadi penyumbatan pada hilir pembuang. Ini merupakan masalah yang perlu ditanggani dengan serius dan salah satu penanganannya melalui perencanaan drainase yang seoptimal mungkin. Drainase yang cocok untuk sebuah perkotaan adalah drainase multi purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan lebih dari satu air buangan baik secara bercampur maupun bergantian.
Pengertian Perencanaan Geometrik Jalan Raya
Pengertian Perencanaan Geometrik Jalan Raya
Perencanaan geometrik jalan raya merupakan bagian perencanaan jalan yang dititik beratkan pada bentuk fisik, sehingga dapat memenuhi fungsi dasar dari jalan yaitu memberikan pelayanan yang optimum pada arus lalu lintas dan sebagai aksesibilitas dari daerah asal dan tujuan.
Adapun mengingat fungsi dasar dari jalan yang sangat penting yaitu memberikan pelayanan kepada pengguna jalan yang optimal maka diperlukan perencanaan jalan yang memadai, salah satunya adalah perencanaan geometric jalan. Dengan perencanaan geometrik yang optimal akan menghasilkan infrastruktur yang nyaman, efisien pelayanan arus lalu lintas dan memaksimalkan rasio penggunaan / biaya pelaksanaan ruang.
Dalam perencanaan geometrik jalan, untuk mendapatkan hasil yang maksimal didasarkan pada sifat gerakan dan ukuran kendaraan sifat pengemudi dalam mengendalikan kendaraan dan karakteristik arus lalu lintas.
Jalan merupakan faktor yang sangat penting dalam pembangunan, maka jalan mempunyai arti penting bagi laju pertumbuhan suatu daerah sehingga dengan tersedianya jalan yang baik pembangunan lainnya dapat menunjang. Maksud dan tujuan pembangunan jalan adalah untuk menerobos daerah yang terisolir sehingga hubungan antar daerahdapat terjadi dan akhirnya masyarakat di daerah sekitarnya meningkat.
Untuk sebagai proses kesuksesannya perlu ditinjau sejauh mana tingkat pelayanan masyarakat saat ini, karena semau itu demi untuk kita semua.
Perencanaan Geometrik Jalan Raya ini meliputi perhitungan trase jalan, penampang melintang, jarak pandangan henti, alinemen horizontal, alinemen vertical, saluran atau drainase dan pekerjaan tanah.
Tujuan Perencanaan Geometrik Jalan Raya
Tujuan dari penulisan Perencanaan Geometrik Jalan Raya ini adalah untuk mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam membuat perencanaan geometrik jalan raya dan dapat mencari pemecahannya, sehingga mendapatkan suatu jalur atau rute yang baik dan aman bagi pengemudi kendaraan.
STANDAR KETENTUAN DAN SYARAT UMUM SURAT PERINTAH KERJA (SPK)
1. PENYEDIA JASA MANDIRI
SPK ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan hubungan hukum antara Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang Kegiatan (Nama Kegiatan) dan Direktur (Penyedia Jasa/Kontraktor) sebagai penyedia jasa pekerjaan konstruksi paket (Nama Paket Pekerjaan) seperti hubungan hukum antara majikan dan buruh atau antara prinsipal dan agen. Penyedia jasa bertanggung jawab penuh terhadap personilnya.
2. HAK KEPEMILIKAN
Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang berhak atas kepemilikan semua barang/bahan yang terkait langsung atau disediakan sehubungan dengan jasa yang diberikan oleh penyedia jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang. Jika diminta oleh Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang maka penyedia jasa berkewajiban untuk membantu secara optimal pengalihan hak kepemilikan tersebut kepada Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang sesuai dengan hukum yang berlaku.
Hak kepemilikan atas peralatan dan barang/bahan yang disediakan oleh Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang tetap pada Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang, dan semua peralatan tersebut harus dikembalikan kepada Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang pada saat SPK berakhir atau jika tidak diperlukan lagi oleh penyedia jasa. Semua peralatan tersebut harus dikembalikan dalam kondisi yang sama pada saat diberikan kepada penyedia jasa dengan penegecualian keausan akibat pemakaian yang wajar.
3. CACAT MUTU
Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang akan memeriksa setiap hasil pekerjaan penyedia jasa dan memberitahukan secara tertulis penyedia jasa atas setiap cacat mutu yang ditemukan. Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang dapat memerintahkan penyedia jasa untuk menemukan dan mengungkapkan cacat mutu, serta menguji pekerjaan yang dianggap oleh Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang mengandung cacat mutu. Penyedia jasa bertanggung jawab atas cacat mutu selama 6 (enam) bulan setelah serah terima hasil pekerjaan.
4. PEMUTUSAN
Menyimpang dari Pasal 1266 dan 1267 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang dapat memutuskan SPK ini dengan pemberitahuan tertulis kepada penyedia jasa.
Jika SPK diputuskan sebelum waktu pelaksanaan pekerjaan berakhir dan pemutusan tersebut akibat Keadaan Kahar atau bukan karena kesalahan atau kelalaian penyedia jasa maka penyedia jasa berhak atas pembayaran pekerjaan secara pro rata sesuai dengan prestasi pekerjaan yang dapat diterima oleh Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang.
5. PENANGGUNGAN
Penyedia jasa berkewajiban untuk melindungi, membebaskan, dan menanggung tanpa batas Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang beserta instansinya terhadap semua bentuk tuntutan, tanggung jawab, kewajiban, kehilangan, kerugian, denda, gugatan atau tuntutan hukum, proses pemeriksaan hukum, dan biaya yang dikenakan terhadap Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang beserta instansinya (kecuali kerugian yang mendasari tuntutan tersebut disebabkan kesalahan atau kelalaian berat Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang) sehubungan dengan klaim atas kehilangan atau kerusakan peralatan dan harta benda penyedia jasa, dan/atau cidera tubuh, sakit atau kematian personil penyedia jasa, dan/atau kehilangan atau kerusakan harta benda, serta cidera tubuh, sakit atau kematian pihak ketiga yang timbul dari pelaksanaan SPK, terlepas dari bagaimana, kapan, atau di mana kerugian tersebut terjadi.
6. PERPAJAKAN
Penyedia jasa berkewajiban untuk membayar semua pajak, bea, retribusi, dan pungutan lain yang dibebankan oleh hukum yang berlaku atas pelaksanaan SPK. Semua pengeluaran perpajakan ini dianggap telah termasuk dalam nilai SPK.
7. HUKUM YANG BERLAKU
Keabsahan, interpretasi, dan pelaksanaan SPK ini didasarkan kepada hukum Republik Indonesia.
8. PENYELESAIAN PERSELISIHAN
Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang dan penyedia jasa berkewajiban untuk berupaya sungguh-sungguh menyelesaikan secara damai semua perselisihan yang timbul dari atau berhubungan dengan SPK ini atau interpretasinya selama atau setelah pelaksanaan pekerjaan. Jika perselisihan tidak dapat diselesaikan secara musyawarah maka perselisihan akan diselesaikan melalui pengadilan negeri dalam wilayah hukum Republik Indonesia.
9. ADENDUM
SPK ini tidak dapat diubah kecuali dibuat secara tertulis serta berlaku jika disetujui oleh Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang dan penyedia jasa.
10. PENGALIHAN DAN/ATAU SUBKONTRAK
Penyedia jasa dilarang untuk mengalihkan dan/atau mensubkontrakkan sebagian atau seluruh pekerjaan. Pengalihan seluruh pekerjaan hanya diperbolehkan dalam hal pergantian nama penyedia jasa, baik sebagai akibat peleburan (merger) atau akibat lainnya.
11. PENGENDALIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN
Dalam hal Pengendalian atas penyelenggaraan pelaksanaan kegiatan pekerjaan, Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa, Pengguna Barang dibantu oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) (Kegiatan Terkait), termasuk persetujuan atas pembayaran yang diajukan oleh penyedia jasa.
12. LARANGAN PEMBERIAN KOMISI
Penyedia jasa menjamin bahwa tidak satu pun personil satuan kerja Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang telah atau akan menerima komisi atau keuntungan tidak sah lainnya baik langsung maupun tidak langsung dari SPK ini. Penyedia jasa menyetujui bahwa pelanggaran syarat ini merupakan pelanggaran yang mendasar terhadap SPK ini.
Note: Standart ini bisa saja berubah, tergantung dari jenis pekerjaan dan isi kesepakatan.
Metode Pelaksanaan Pekerjaan (Pembangunan Rumah Sederhana)
M e t o d e P e
l a k s a n a a n
(Nama Paket Pekerjaan)
Kabupaten ............
I.
Pekerjaan
Persiapan
1. Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
Pemasangan
Bouwplank/Pengukuran dimulai sesudah lokasi pekerjaan bersih dari semak-semak
dan lainnya. Tiang bouwplank harus terpasang kuat, papan ketam halus dan lurus
pada sisi atasnya, tiap sudut harus siku. Untuk kayu bouwplank tiang kayu
digunakan kayu 5/7 cm dan papan bouwplank bagian atasnya diserut rata dan
bersih agar permukan peil bangunan yang telah ditentukan sama permukaannya.
2. Pekerjaan Bedeng/Sewa
Setelah
lokasi bersih dilanjutkan dengan pembuatan Direksi Keet + Barak Kerja dan
Gudang, dimana Direksi Keet dibuat untuk kegiatan administrasi proyek.
Sementara barak kerja dibuat untuk penginapan para pekerja dan gudang dibuat
untuk menyimpan bahan material dan peralatan.
3. Air dan Listrik Kerja
Air untuk kerja senantiasa bersih, bebas dari lumpur, minyak, asam, alkali,
garam-garam, bahan organis atau bahan-bahan lain yang merusak beton atau baja
tulangan.
Listrik untuk bekerja akan disediakan yang diperoleh dari
sambungan sementara PLN setempat selama masa pembangunan.
4. Keamanan & Koordinasi Lingkungan
Kami akan menyediakan fasilitas keamanan dan koordinasi lingkungan untuk
kelancaran pelaksanaan proyek.
II.
Pekerjaan Tanah
1. Galian tanah
pondasi dilakukan setelah pekerjaan persiapan selesai. Galian tanah pondasi ini
berpedoman pada titik-titik yang telah dibuat pada bouwplank meliputi galian
tanah untuk pondasi plat menerus, batu gunung dan rollag bata. Langkah awal
yang kami lakukan adalah memasang patok/bouwplank sesuai kebutuhan, setelah
disetujui Direksi/Pengawasan baru dilakukan galian dengan hati-hati agar tidak
terganggu kedudukan patok bouwplank dan digali sesuai dengan gambar pelaksanaan
baik dari segi bentuk, ukuran dan elevasinya atau menurut petunjuk dari
Direksi/Pengawas.
2. Urugan tanah kembali
pondasi dilaksanakan setelah pembuatan pondasi galian dilaksanakan dengan
terlebih dahulu tanah dibersihkan dari lapisan tanah humus dan lapisan organik,
kemudian permukaan tanah dikasarkan dan dibasahi dengan air agar timbunan mudah
monolit dengan tanah dasar. Bahan timbunan diambil dari hasil galian setempat
yang dipilih dan disetujui oleh Direksi/Pengawas. Pada saat penimbunan
dilaksanakan secara berlapis-lapis didapatkan, tebal lapisan pertama dengan
lapisan selanjutnya ± 20 cm dan dipadatkan selapis
demi lapis hingga mencapai garis elevasi rencana. Pemadatan dilakukan dengan
memakai stamper/Hand Compector.
3. Urugan pasir
dibawah pondasi dilakukan sebelum pondasi terpasang agar tidak terjadi
penurunan. Pada saat penimbunan dilaksanakan secara berlapis-lapis didapatkan,
tebal lapisan pertama dengan lapisan selanjutnya ± 20 cm dan
dipadatkan selapis demi lapis hingga mencapai garis elevasi rencana. Pemadatan
dilakukan dengan memakai stamper/Hand Compector.
4. Urugan tanah
bawah lantai dilaksanakan setelah pondasi, sloof dan kolom sampai elevasi nol
telah terpasang dengan baik. Bahan timbunan digunakan tanah yang mudah
dipadatkan. Pemadatan dilakukan dengan menggunakan stamper/Hand Compector.
III.
Pekerjaan Beton
1. Pemasangan
pondasi batu gunung dikerjakan sesuai dengan gambar bestek dimana ukuran dan
penampang pondasi ditentukan dengan patok profil sesuai dengan gambar bestek.
Pasangan batu gunumg dilaksanakan sesudah pekerjaan galian tanah pondasi
dilaksanakan dengan sistim memberikan urugan pasir bawah pondasi, pasangan batu
kosong. Komposisi campuran sesuai spek yang diberikan.
2.
Pekerjaan
pasangan aanstamping/batu kosong dikerjakan setelah lapisan pasir urug selesai.
Pasangan batu kosong dipasang setebal 10 cm dari material
batu kali dengan perekat pasir urug.
3.
Setelah Pasangan
batu kosong dilaksanakan dilanjutkan dengan pekerjaan sloof, pengecoran sloof
dilaksanakan bersamaan dengan pengecoran lantai kerja dari beton bertulang
dengan tebal 10 cm dengan tulangan susut.
4.
Pekerjaan pondasi tapak
dilaksanakan setelah selesai pekerjaan lantai kerja, pembesian tulangan dan
bekisting serta telah mendapat persetujuan pengawas.
5.
Pekerjaan
kolom dapat dimulai pelaksanaannya setelah selesai pondasi tapak pekerjaan
sloof selesai dikerjakan. Pada sisi kolom
yang akan dipasang batu bata diberi nat agar antara kolom dengan dinding
nantinya tidak retak.
6.
Pekerjaan balok, lantai
dikerjakan setelah pekerjaan kolom. Bekesting dari balok lantai baru dapat
dibuka setelah umur pengecoran cukup atau sesuai petunjuk dari Direksi.
7.
Pengecoran beton
dilakukan setelah pembesian, penulangan sesuai gambar bestek dan untuk posisi
peralatan Concrete Mixer, Vibrator Concrete dan Elivator Concrete.
8. Untuk bahagian pekerjaan lain yang terkait pekerjaan beton balok,
lantai harus dipersiapkan sebelum pengecoran beton sehingga tidak terjadi pembongkaran
pada bahagian beton yang telah dicor.
Untuk
melaksanakan Pekerjaan Beton Bertulang, terlebih dahulu harus didahului dengan
menyiapkan pekerjaan pembesian di lokasi pekerjaan/bengkel kerja dan diluar
lokasi. Pekerjaan ini terdiri dari memotong besi, membengkok sesuai ukuran
dimensi serta merangkainya hingga membentuk suatu kerangka yang siap untuk
dipasang dilapangan. Dalam proses merangkai/mengikat ini dilakukan langsung
dilapangan selanjutnya bersamaan dapat disiapkan pekerjaan pembuatan bekesting
dan perancah sesuai keperluan. Material untuk beton yang digunakan terdiri dari
Semen Portland (PC), pasir beton, kerikil pecah dan air yang memenuhi persyaratan
spesifikasi teknis. Adukan beton cor dilakukan dengan mencampurkan seluruh
material kedalam Molen Beton (Concrete Mixer), komposisi campuran sesuai
spesifikasi diawasi secara akurat berdasarkan perbandingan volume untuk
tiap-tiap material yang akan dicampurkan. Untuk memudahkan pelaksanaan
pengadukan pada Concre Mixer, akan didahului dengan menuangkan air ke dalam
tabung pencampur dengan jumlah takaran yang telah ditetapkan, lalu dilanjutkan
dengan menuangkan semen portland
(PC) hingga kedua material tersebut membentuk menjadi air semen yang
benar-benar larut dan homogen. Setelah hal tersebut dilakukan, langkah
selanjutnya adalah mencampurkan material lainnya (pasir dan kerikil) kedalam
tabung mixer. Proses pengadukan akan dilakukan selama lebih kurang tiga menit
agar diperoleh adukan yang benar-benar tercampur secara merata. Untuk
selanjutnya diangkut ke lokasi pekerjaan. Posisi concrete mixer/mesin pencampur
akan diletakkan sedekat mungkin dengan lokasi pekerjaan agar proses
pengangkutannya tidak memakan waktu lama hingga berpengaruh terhadap kekentalan
adukan sewaktu dilakukan pengecoran. Proses pengecoran akan dilakukan kedalam
cetakan/bekisting melalui talang Elivator sambil dilakukan pemadatan dengan
Concrete Vibrator. Permukaan beton yang telah selesai dicor selanjutnya akan
dirawat selama 7 hari dengan proses penyiraman, hal ini dilakukan untuk menjaga
agar beton senantiasa dalam keadaan lembab hingga proses pengerasan beton dapat
berjalan secara normal tanpa dipengaruhi oleh suhu disekitarnya.
IV.
Pekerjaan Pasangan Dinding dan Plesteran
1. Pekerjaan
pasangan dinding batu bata dilaksanakan sebahagian sesudah pekerjaan sloof dan
kolom selesai dilaksanakan dan bersamaan dengan pekerjaan kolom praktis.
2. Pasangan bata
adukan 1Pc : 2Ps dipasang pada daerah basah (KM/WC) ataupun seperti yang
tertera dalam gambar rencana dengan ketinggian sesuai dengan gambar rencana.
3. Pasangan bata
adukan 1Pc : 4Ps dipasang pada dinding bangunan, tolak angin dan dinding
penutup diatas ring balok.
4. Sebelum
digunakan batu bata terlebih dahulu direndam air dalam bak atau drum hingga
jenuh. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air
terlebih dahulu dan siar-siar telah dikerok dan dibersihkan. Pemasangan dinding
batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri maksimum 24 lapis setiap
harinya, diikuti dengan cor kolom praktis.
5. Adukan pasangan
harus dibuat secara hati-hati, diaduk didalam bak kayu yang memenuhi syarat,
mencampur semen dengan pasir harus dalam keadaan kering yang kemudian diberi
air sampai didapat campuran yang plastis. Adukan yang telah mengering akibat
tidak habis digunakan sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi dengan adukan yang
baru.
6.
Pekerjaan
plesteran dilakukan pada seluruh pasangan bata, beton bertulang dan dinding.
Pekerjaan plesteran dilakukan bersamaan dengan penyelesaian pasangan bata,
pemipaan elektrikal, plumbing.
7.
Plesteran adukan 1
Pc : 2 Ps dipergunakan pada dinding KM/WC setinggi 1,5 m dari kaki dinding,
trasram juga 30 cm dari permukaan pasangan batu pada dinding, sedangkan
plesteran bata lainnya dipergunakan campuran 1 Pc : 4 Ps.
8. Sebelum
plesteran dilakukan terlebih dahulu dinding dibersihkan dari semua kotoran,
kemudian dinding dibasahi dengan air dan permukaan beton yang akan diplester
dibuat kasar agar bahan plesteran dapat merekat dengan baik.
9. Ketebalan
plesteran untuk seluruh konstruksi minimal 10 mm, termasuk lapisan dinding
keramik, kecuali ditentukan lain pada gambar.
V.
Pekerjaan Atap
Kuda-kuda,
balok dan rangka atap yang digunakan adalah dari baja ringan yang mempunyai
kualitas yang bagus dan tahan lama. Metode pemasangan dimulai dari sisi bawah
(dari sisi lisplank). Pemasangan harus rapi dan memenuhi syarat-syarat sehingga
tidak mengakibatkan kebocoran. Untuk pekerjaan lisplank akan menggunakan jenis
kayu Seumantok yang mempunyai daya tahan lama (awet). Pada pekerjaan atap ini
dilakukan dengan teliti dan rapi.
VI.
Pekerjaan Plafond
1. Langit-langit
ruangan dipasang plafond triplek. Sebelum pemasangan plafond terlebih dahulu
dibuat rangka plafond terbuat dari kayu kelas II. Pemasangan plafond triplek
dilakukan langsung pada rangka plafond kayu kelas II.
VII.
Pekerjaan Lantai
1.
Pada pekerjaan lantai
seperti tercantum pada gambar rencana yang dikerjakan diatas beton cor, sebelum
dilakukan pengecoran terlebih dahulu tanah pasir urug dipadatkan dengan alat
pemadat (stamper).
2.
Pola pemasangan keramik lantai satu sesuai dengan
gambar rencana dan petunjuk Direksi. Jarak antara unit-unit pemasangan keramik
yang terpasang (lebar siar-siar) dibuat sama lebar minimum 2 mm dan kedalaman
maksimum 2 mm yang membentuk garis-garis sejajar dan lurus yang sama lebar dan
sama dalamnya, untuk siar-siar yang berpotongan dibuat membentuk sudut siku dan
saling berpotongan tegak lurus sesamanya. Pemotongan unit-unit keramik
menggunakan alat pemotong keramik khusus sesuai persyaratan pabrik.
3.
Keramik yang telah terpasang dibersihkan dari segala
macam noda pada permukaan keramik hingga bersih. Sebelum keramik dipasang terlebih
dahulu unit-unit keramik direndam dalam air sampai jenuh. Pinggulan pasangan
keraamik dilakukan dengan alat gurinda sehingga diperoleh hasil pengerjaan yang
rapi, siku dan tepian yang sempurna.
4.
Untuk plat lantai kamar mandi dan balkon serta plat
atap beton digunakan water proofing yang mempunyai jaminan/garansi dari pabrik.
Bidang permukaan beton yang akan diberi bahan kedap air dibuat rata, halus,
kering dan bersih serta cukup landai (kemiringan 1-2 % ke arah lubang pembuang
air).
5. Sebelum diplester, lantai beton dikasarkan dan jenuh dengan air. Hasil
akhir dari pekerjaan lapisan kedap air merupakan suatu lapisan dengan permukaan
yang rata/tidak bergelombang serta tidak berlubang-lubang pada
sambungan-sambungannya ataupun keretakan lainnya yang dapat menimbulkan
kebocoran.
VIII.
Pekerjaan Plumbing
1. Pemasangan
pipa-pipa dilakukan sebelum plesteran dan langit-langit dilaksanakan dan bisa
dilakukan secara bersamaan.
2. Pemasangan
sparing untuk pipa-pipa yang mungkin akan menembus struktur bangunan mesti
dilakukan bersama-sama pada waktu pelaksanaan struktur yang bersangkutan.
3. Pemasangan
pipa-pipa atau alat bantu dilakukan sedemikian rupa, sehingga tidak ada suatu
sambungan yang saling bersilangan atau pipa air bersih dengan pipa pembuangan
lainnya.
4. Seluruh perlengkapan toilet dan peralatan bantu dilakukan sejalan
dengan pekerjaan lantai, dinding sebelum dipasang terlebih dahulu mendapat
persetujuan Direksi serta warnanya telah mendapat persetujuan perencana.
5. Tempat dudukan yang dipasang perlengkapan toilet beserta seluruh
pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut telah terpasang dengan
baik dan disetujui dari Direksi.
IX.
Pekerjaan Elektrikal
1. Semua bahan
sebelum dipasang terlebih dahulu ditunjukkan kepada Direksi beserta
persyaratan/ketentuan pabrik untuk mendapatkan persetujuan.
2. Sebelum
pemasangan dimulai, kami akan meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi
dilapangan terhadap bentuk, pola, penempatan, cara pemasangan dan detail-detail
sesuai gambar.
3.
Semua sambungan
rapat air dan udara. Penyaring dan pipa-pipa yang diekspos untuk semua
peralatan dan perlengkapan dihubungkan ke pipa kasar pada dinding dengan
sambungan sesuai yang disyaratkan.
4. Jaringan instalasi dan ukuran pipa-pipa yang dipakai
disesuaikan dengan gambar rencana. Untuk pekerjaan elektikal, instalasi listrik
pada dinding bata dikerjakan sebelum pekerjaan plesteran dilaksanakan demikian
juga halnya dengan penempatan kabel-kabel dan titik lampu dilakukan seiring
dengan pekerjaan pemasangan plafond. Setelah instalasi listrik selesai
lampu-lampu segera dipasang atau sesuai dengan petunjuk Direksi. Jenis lampu
dipasang sesuai dengan gambar rencana.
X.
Pekerjaan Kusen
dan Penggantung
1. Pekerjaan
kusen pintu menggunakan bahan yang terbuat dari aluminium, yang memiliki
kualitas yang bagus sesuai spesifikasi dalam bestek dan disetujui oleh Direksi.
Pemasangan kusen dilakukan seiring dengan pemasangan dinding bata. Pada bagian
pekerjaan bata dipasang kusen langsung ditempatkan kusen pintu, kusen jendela
maupun kusen bouvenlight. Untuk pemasangan
kusen pintu diberi kaki kusen dari semen agar kusen tidak rusak terkena air.
Untuk ketinggian penempatan jendela dari lantai mengikuti gambar rencana atau
disamakan antara elevasi ambang atas kusen pintu dengan elevasi ambang atas
jendela atau bouvenlight. Bagian kusen yang menyentuh dinding akan diberi
angker yang terbuat dari baut khusus.
2. Pekerjaan ini
meliputi pekerjaan pemasangan kunci pintu dan jendela serta aksesoris lain.
Dalam pekerjaan ini nilai atau persentase pekerjaan ini sangat kecil, namun
demikian pekerjaan ini menjadi penting mengingat keamanan maupun kenyamanan
dimasa yang akan datang berhubungan erat dengan kesempurnaan pekerjaan ini.
Sebelum alat-alat penggantung dan kunci dipasang kami akan memperlihatkan
terlebih dahulu kepada direksi ataupun konsultan pengawas untuk mendapatkan
persetujuan penggunaannya.
XI.
Pekerjaan
Pengecatan
1. Sebelum
Pekerjaan Pengecatan dilakukan bagian yang akan dicat terlebih dahulu
dibersihkan dan sebagai dasar awal diberikan dempul agar permukaan dinding
terlihat halus tidak kasar.
2. Pengecatan
dilakukan lapis demi lapis, setiap kali lapisan pada cat akhir dilakukan,
dihindarkan terjadinya sentuhan-sentuhan selama ½ sampai 1 ½ jam. Pengecatan
akhir dilakukan minimum 2 (dua) lapis sehingga hasil pengecatan yang baik dan
rata warnanya.
XII.
Pekerjaan Lain-lain
Untuk pekerjaan Septictank dimulai dengan terlebih dahulu dikerjakan
galian tanah, kemudian dilanjutkan dengan
pasangan pondasi batu bata 1 : 2. Setelah terpasang, sisi pondasi diurug
dengan tanah dan pasir serta dipadatkan dengan baik agar tidak terjadi
penurunan. Pondasi ditimbun hingga mencapai ketinggian di bawah lantai dengan
pasir dan kerikil. Setelah itu dilanjutkan dengan pemasangan ijuk. Pada saat
penimbunan kerikil dipasang pipa buang air kotor 4”. Setelah urugan pasir
dilaksanakan dilanjutkan dengan urugan tanah dan pemasangan pipa hawa dia. 2”.
Tempat, ....,....., 2016
PT. / CV. ........................
(NAMA)
Direktur
Format Surat Teguran Keterlambatan Proyek/Pekerjaan
KOP SURAT (DINAS TERKAIT)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nomor : /......./......./...../....../2016 ............, Tanggal, Bulan, 2016
Lampiran :
Kepada Yth,
Bapak Direktur
PT. CV. (Kontraktor/Pelaksana Pekerjaan)
di-
Tempat
Perihal : Teguran I (Keterlambatan
Pekerjaan) Terhadap Paket Pekerjaan.............. (Nama Paket Pekerjaan Yang dikerjakan Oleh Kontraktor)
Dengan hormat,
Sehubungan dengan telah dimulainya Paket Pekerjaan.........(Nama Paket Pekerjaan Yang dikerjakan Oleh Kontraktor), yang dilaksanakan oleh PT. CV. (Kontraktor/Pelaksana Pekerjaan) dengan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) Nomor : .../.../.../2016 Tanggal ..., ..., 2016, maka dengan ini berdasarkan
laporan yang kami terima pada tanggal ..., ..., 2016 terjadinya keterlambatan
pekerjaan sampai sebesar ....% (minus) (Berdasarkan Tinjauan Lapangan). Dan menurut pengamatan kami di lapangan
keterlambatan tersebut disebabkan oleh:
1.
Diisi sesuai dengan masalah yang menyebakan terlambatnya pekerjaan.
2. ....
3. ....
Selanjutnya kami instruksikan kepada Kontraktor agar
segera memacu pekerjaan untuk mengejar keterlambatan pekerjaan tersebut
dengan segera memproses pembebasan lahan dengan masyarakat setempat.
Demikianlah disampaikan, atas perhatian dan kerja samanya kami ucapkan
terima kasih.
Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
Wilayah ...... (..................)
(Nama)
Nip.
.....................................
Tembusan :
1. Kepala Dinas .............
2. Kuasa Pengguna Anggaran Dinas ..........
3. Konsultan
Pengawas PT. / CV. ...........
4. Arsip.
Beton Serat
Beton serat adalah beton yang cara pembuatannya ditambah serat. Tujuan penambahan serat tersebut adalah untuk meningkatkan kekuatan tarik beton, sehingga beton tahan terhadap gaya tarik akibat, cuaca, iklim dan temperatur yang biasanya terjadi pada beton dengan permukaannya yang luas. Jenis serat yang dapat digunakan dalam beton serat dapat berupa serat alam atau serat buatan.
Serat Alam, umumnya terbuat dari tumbuh-tumbuhan, misalnya:
- ijuk
- serabut kelapa
- sisal
- dll
Serat Buatan, umumnya terbuat dari senyawa-senyawa polimer yang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap pengaruh cuaca, seperti:
- polypropilene
- polyetilene
- dll
Untuk mendapatkan hasil terbaik dianjurkan menggunakan rasio 50 – 100 dimana jika diambil diameter serat 1mm, panjangnya berkisar 50 – 100 mm.
Sifat fisis beton serat:
- Beton dengan serat membuatnya menjadi lebih kaku sehingga memperkecil nilai slump serta membuat waktu ikat awal (initial setting) lebih cepat.
Sifat Mekanis beton serat:
- Penambahan serat sampai batas optimum umumnya meningkatkan kuat tarik dan kuat lentur, tetapi menurunkan kekuatan tekan. Jenis serat tertentu meningkatkan kinerja beton seperti serat baja dan serat tembaga.
Penggunaan Beton Serat:
- Beton serat digunakan pada konstruksi yang harus mempunyai permukaan luas dimana temperatur, oksidasi dan penguapan mempunyai pengaruh besar terhadap besarnya susut muai, seperti landasan pacu di bandar udara, plat atap, jalan, dan lain-lain.
Elemen Yang Perlu Diperhatikan Saat Mendesain Struktur Gedung
Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika mendesain elemen-elemen struktur, khususnya struktur gedung. walaupun pada artikel sebelumnya sudah saya bahas tentang membangun rumah sederhana yang tahan Gempa, tapi kali ini saya kususkan pada elemen2 struktur yang wajib diperhatikan untuk para engineering berbakat semuanya.
Untuk bagian yang pertama kali ini, elemen yang dibahas adalah KOLOM.
Untuk bagian yang pertama kali ini, elemen yang dibahas adalah KOLOM.
A. Analisa
- Jenis taraf penjepitan kolom. Jika menggunakan tumpuan jepit, harus dipastikan pondasinya cukup kuat untuk menahan momen lentur dan menjaga agar tidak terjadi rotasi di ujung bawah kolom.
- Reduksi Momen Inersia
Untuk pengaruh retak kolom, momen inersia penampang kolom direduksi menjadi 0.7Ig (Ig = momen inersia bersih penampang)
B. Beban Desain (Design Loads)
Yang perlu diperhatikan dalam beban yang digunakan untuk desain kolom beton adalah:
- Kombinasi Pembebanan.
Seperti yang berlaku di SNI Beton, Baja, maupun Kayu. - Reduksi Beban Hidup Kumulatif.
Khusus untuk kolom (dan juga dinding yang memikul beban aksial), beban hidup boleh direduksi dengan menggunakan faktor reduksi beban hidup kumulatif. Rujukannya adalah Peraturan Pembebanan Indonesia (PBI) untuk Gedung 1983
Tabelnya adalah sebagai berikut:
| Jumlah lantai yang dipikul | Koefisien reduksi |
| 1 | 1.0 |
| 2 | 1.0 |
| 3 | 0.9 |
| 4 | 0.8 |
| 5 | 0.7 |
| 6 | 0.6 |
| 7 | 0.5 |
| 8 atau lebih | 0.4 |
Contoh cara penggunaan:Misalnya ada sebuah kolom yang memikul 5 lantai. Masing-masing lantai memberikan reaksi beban hidup pada kolom sebesar 60 kN. Maka beban hidup yang digunakan untuk desain kolom pada masing-masing lantai adalah:
- Lantai 5 : 1.0 x 60 = 60 kN
- Lantai 4 : 1.0 x (2×60) = 120 kN
- Lantai 3 : 0.9 x (3×60) = 162 kN
- Lantai 2 : 0.8 x (4×60) = 192 kN
- Lantai 1 : 0.7 x (5×60) = 210 kN
Jadi, lantai paling bawah cukup didesain terhadap beban hidup 210 kN saja, tidak perlu sebesar 5×60 = 300 kN.
Dasar dari pengambilkan reduksi ini adalah bahwa kecil kemungkinan suatu kolom dibebani penuh oleh beban hidup di setiap lantai. Pada contoh di atas, bisa dikatakan bahwa kecil kemungkinan kolom tersebut menerima beban hidup 60 kN pada setiap lantai pada waktu yang bersamaan. Sehingga beban kumulatif tersebut boleh direduksi.
Catatan: Beban ini masih tetap harus dikalikan faktor beban di kombinasi pembebanan, misalnya 1.2D + 1.6L.
Dasar dari pengambilkan reduksi ini adalah bahwa kecil kemungkinan suatu kolom dibebani penuh oleh beban hidup di setiap lantai. Pada contoh di atas, bisa dikatakan bahwa kecil kemungkinan kolom tersebut menerima beban hidup 60 kN pada setiap lantai pada waktu yang bersamaan. Sehingga beban kumulatif tersebut boleh direduksi.
Catatan: Beban ini masih tetap harus dikalikan faktor beban di kombinasi pembebanan, misalnya 1.2D + 1.6L.
D. Gaya Dalam
- Gaya dalam yang diambil untuk desain harus sesuai dengan pengelompokan kolom apakah termasuk kolom bergoyang atau tak bergoyang, apakah termasuk kolom pendek atau kolom langsing.
- Perbesaran momen (orde kesatu), dan analisis P-Delta (orde kedua) juga harus dipertimbangkan untuk menentukan gaya dalam.
C. Detailing Kolom Beton
Untuk detailing, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Ukuran penampang kolom.
Untuk kolom yang memikul gempa, ukuran kolom yang terkecil tidak boleh kurang dari 300 mm. Perbandingan dimensi kolom yang terkecil terhadap arah tegak lurusnya tidak boleh kurang dari 0.4. Misalnya kolom persegi dengan ukuran terkecil 300mm, maka ukuran arah tegak lurusnya harus tidak lebih dari 300/0.4 = 750 mm. - Rasio tulangan tidak boleh kurang dari 0.01 (1%) dan tidak boleh lebih dari 0.08 (8%). Sementara untuk kolom pemikul gempa, rasio maksiumumnya adalah 6%. Kadang di dalam prakteknya, tulangan terpasang kurang dari minimum, misalnya 4D13 untuk kolom ukuran 250×250 (rasio 0.85%). Asalkan beban maksimumnya berada jauh di bawah kapasitas penampang sih, oke-oke saja. Tapi kalau memang itu kondisinya, mengubah ukuran kolom menjadi 200×200 dengan 4D13 (r = 1.33%) kami rasa lebih ekonomis. Yang penting semua persyaratan kekuatan dan kenyamanan masih terpenuhi.
- Tebal selimut beton adalah 40 mm. Toleransi 10 mm untuk d sama dengan 200 mm atau lebih kecil, dan toleransi 12 mm untuk d lebih besar dari 200 mm. d adalah ukuran penampang dikurangi tebal selimut. d adalah jarak antara serat terluar beton yang mengalami tekan terhadap titik pusat tulangan yang mengalami tarik. Misalnya kolom ukuran 300 x 300 mm, tebal selimut (ke titik berat tulangan utama) adalah 50 mm, maka d = 300-50 = 250 mm.
Catatan:
- toleransi 10 mm artinya selimut beton boleh berkurang sejauh 10 atau 12 mm akibat pergeseran tulangan sewaktu pemasangan besi tulangan. Tetapi toleransi tersebut tidak boleh sengaja dilakukan, misanya dengan memasang “tahu beton” untuk selimut setebal 30 mm.
– Adukan plesteran dan finishing tidak termasuk selimut beton, karena adukan dan finishing tersebut sewaktu-waktu dapat dengan mudah keropos baik disengaja atau tidak disengaja. - Pipa, saluran, atau selubung yang tidak berbahaya bagi beton (tidak reaktif) boleh ditanam di dalam kolom, asalkan luasnya tidak lebih dari 4% luas bersih penampang kolom, dan pipa/saluran/selubung tersebut harus ditanam di dalam inti beton (di dalam sengkang/ties/begel), bukan di selimut beton.
Pipa aluminium tidak boleh ditanam, kecuali diberi lapisan pelindung. Aluminium dapat bereaksi dengan beton dan besi tulangan. - Spasi (jarak bersih) antar tulangan sepanjang sisi sengkang tidak boleh lebih dari 150 mm.
- Sengkang/ties/begel adalah elemen penting pada kolom terutama pada daerah pertemuan balok-kolom dalam menahan beban gempa. Pemasangan sengkang harus benar-benar sesuai dengan yang disyaratkan oleh SNI.
Selain menahan gaya geser, sengkang juga berguna untuk menahan/megikat tulangan utama dan inti beton tidak “berhamburan” sewaktu menerima gaya aksial yang sangat besar ketika gempa terjadi, sehingga kolom dapat mengembangkan tahanannya hingga batas maksimal (misalnya tulangan mulai leleh atau beton mencapai tegangan 0.85fc’) - Transfer beban aksial pada struktur lantai yang mutunya berbeda. Pada high-rise building, kadang kita mendesain kolom dan pelat lantai dengan mutu beton yang berbeda. Misalnya pelat lantai menggunakan fc’25 MPa, dan kolom fc’40 MPa. Pada saat pelaksanaan (pengecoran lantai), bagian kolom yang berpotongan (intersection) dengan lantai tentu akan dicor sesuai mutu beton pelat lantai (25 MPa). Daerah intersection ini harus dicek terhadap beban aksial di atasnya. Tidak jarang di daerah ini diperlukan tambahan tulangan untuk mengakomodiasi kekuatan akibat mutu beton yang berbeda.






